Lo tau nggak sih, ada seorang fotografer yang udah nge-follow Tour de France selama 20 tahun? Yeah, 20 kali bro. Dari era Lance Armstrong yang masih jaya, sampai era Tadej Pogacar yang sekarang jadi GOAT cycling dunia. Namanya Pete Goding, dan pengalaman dia photographing Tour de France itu literally EPIC banget.
Jadi Fotografer di Atas Motor? Gaspol!
Dulu, sebelum Covid, ada 18 motor fotografi yang bisa weave through di Tour. Sekarang? Cuma tinggal 9 doang. Jadi akses buat para fotografer makin terbatas dan semuanya harus berbagi resource. Pete bekerja sama sama kolektif Belgium-Italia kecil, jadi kalau giliran lo, lo beneran harus max out semuanya.
Tahun ini, dia dapet jatah buat opening team time trial di Barcelona, beberapa sprint stages, dan yang paling epic: mountain finish di Orcières-Merlette. Worth it banget meskipun bukan Alpe d'Huez. "Tapi nobody turns down a day on the back of a Tour moto," kata Pete.
Barcelona: Sagrada Família Jadi Backdrop
Di Barcelona, ceritanya beda. Sagrada Família jadi backdrop utama. Pete ngambil foto-foto rider dari bayang-bayang katedral dengan 400mm lens, terus switch ke 24mm saat rider menyapu lewat, coba masukin masterpiece Gaudí ke frame—termasuk crane-nya juga. Interaksi dengan fans Denmark yang nawarin es batu buat hydrasi juga seru, dan dia jadi jago panning sambil juggling kamera.
Stage 18: Chaos di Alpine Roads
Tapi Stage 18 di Alpine roads itu beda level. Di jalan sempit yang barely cukup buat rider, support cars, dan occasional motorcycle, mereka spend setengah hari leapfrogging antara breakaway dan peloton. Tiba-tiba Richard Carapaz attack di sisi jalan yang sama—dan dalam hitungan detik, Pete photo satu tangan sambil berpegangan ke motor. "For a few entertaining seconds I was photographing one-handed while hanging on to the back of the bike for dear life," kenang Pete. Chaos level: maximum.
Stage 19: Alpe d'Huez dan Rekor Pantani
Stage 19 di Alpe d'Huez jadi momen bersejarah karena Pogacar melampaui rekor climbing Marco Pantani. Dengan finish yang uphill dan podium deket, Pete anticipate moments embrace dan reaksi dia—pakai wide-angle lens di barisan fotografer grey-bibbed, siap nangkep momen-momen itu. Dan indeed, Pogacar nge-roll ke podium dan langsung ngelakuin celebration yang epic.
Galibier: Remote Camera dengan Non-Photographer
Di Galibier, Pete setup remote camera dengan tripod dan cable release. Tapi dia butuh seseorang buat trigger remote camera-nya. Enter Ryan, seorang cycling journalist yang absolutely nggak ada experience fotografi. Instruksi Pete simpel: "See man on bike: press button!" Beberapa nervous nods, terus Pete walk away hoping for the best. Dan Ryan nailed it! Chapeau, Ryan.
Champs-Élysées: Fall dan Rescue
Di final stage, Champs-Élysées udah jadi benteng militer. Gendarmes di setiap few metres, security tighter than ever. Pete udah experienced naik gunung dan wade through mangrove swamps tanpa insiden—tapi plastic barrier rendah di Champs-Élysées jadi downfalinya. Dia trip dan jatuh, camera nahan sebagian impact tapi masih butuh buat race berikutnya.
Untung Jim, traveling companion yang kebetulan ada di crowd, nongol dengan spare camera body. Disaster averted. Pete conclude: "Twenty Tours later, I've realised the race isn't really about yellow jerseys or mountain stages. It's about the people you meet, the mishaps you survive and the friends who quietly rescue you when everything goes wrong."
Geek Opinion
Gue sih think ini literally one of the coolest jobs ever—photographing Tour de France dari atas motor sambil ngejar peloton di Alpine roads? That takes serious balls dan skill. Tapi yang bikin article ini engaging bukan cuma action-nya, tapi the human element: fans Denmark yang ngasih es batu, non-photographer yang bisa trigger remote camera, dan teman yang nge-rescue lo pas lo jatuh di Champs-Élysées. That-nya yang bikin lo relate, bro. Ini bukan cuma soal sport, tapi soal passion, community, dan survive the chaos together. That's what keeps Pete coming back—and honestly? We get it.



