Nah, lo tau nggak sih — Chris Froome, salah satu names yang paling legendary di dunia sepeda profesional, baru aja mengumumkan pensiunnya. Dan jujur, jalan cerita pensiunnya ini tuh kayak plot twist yang bikin咱们 (kita semua) auto melongo.
Semuanya Berakhir di Barcelona
Froome, yang sekarang udah umur 41 tahun, ngomong langsung di Barcelona saat Grand Départ Tour de France tahun ini. Dengan wajah yang tampak ikhlas tapi sedikit sedih, dia bilang: "Sayangnya, ada kecelakaan musim panas lalu. Itu bukan cara yang gue mau untuk mengakhiri semuanya. Tapi bahkan saat itu, gue udah tau kalau segalanya udah selesai."
Yep, lo nggak salah dengar — Froome kecelakaan parah waktu latihan Agustus lalu. Dia di-evakuasi helicopter ke rumah sakit dan hasilnya? Lima tulang rusuk patah, patah tulang belakang, paru-paru kolaps, dan yang paling serem — ruptur perikardium, alias robekan di kantong yang ngelilingi jantung. Kondisi yang literally life-threatening, bro.
Era Keemasan yang Bakal Dikenang Selamanya
Tapi kita nggak bisa ngomongin pensiunnya Froome tanpa flashback ke masa-masa keemasaannya. Ini guy ngumpulkan:
- 🏆 4x winner Tour de France (2013, 2015, 2016, 2017)
- 🏆 1x Giro d'Italia (2018)
- 🏆 2x Vuelta a España (2011, 2017)
Yang paling insane? Di tahun 2018, Froome malah HOLDING SEMUA TIGA JUDUL GRAND TOUR SEKALIGUS. Giro, Tour, sama Vuelta. Itu tuh-level achievement yang bikin lo auto bilang "bro, ini nggak реальность (nyata), kan?" Tapi nyata, dan itu dilakukan Froome.
The Downhill Arc yang Nggak Ada yang Bisa Stop
Setelah dominasi selama 11 musim sama Team Sky (2010-2020), kecelakaan 2019 di Criterium du Dauphiné jadi titik awal penurunan yang nggak bisa dibalikin. Dia nabrak tembok waktu time-trial reconnaissance dan harus dirawat di rumah sakit.
Then enters Tadej Pogačar.
Sejak kecelakaan itu, dominasi Froome berakhir dan Pogačar muda langsung naik daun di musim berikutnya. Froome still ngetik kontrak gede sama Israel-Premier Tech di 2021, tapi performa winner-nya udah nggak balik lagi. Final Grand Tour-nya di Vuelta 2022? Dia finish di posisi 113. Dari podium tertinggi ke ranking seratus lebih — that's a brutal decline, bro.
Malah ada momen awkward waktu pemilik tim, billionaire Sylvan Adams, publicly ng Zweifel kemampuan Froome: "Kita tanda-tangan Chris buat jadi leader Tim Tour dan dia bahkan nggak ada di sini. Jadi ini nggak bisa dianggap value for money." Cold, tapi emang bisnis adalah bisnis.
The Ghost of Controversies
Di puncak kejayaannya, Froome juga harus hadap skeptisisme berkelanjutan dari media dan publik Prancis. Di primavera 2018, dia dapet adverse analytical finding buat penggunaan salbutamol. Kasus ini bikin reputasinya tarnished dan fuels skepticism yang makin deras, especially di Prancis.
Meskipun dia berhasil nangkis tuduhan itu dan 최종적으로 (akhirnya) di-exonerate, damage ke citranya udah terjadi. Froome sendiri pernah bilang dengan tegas: "Gue akan never dishonour yellow jersey dan hasil-hasil gue akan melewati test of time. gue nggak akan — dan mereka akan."
What's Next?
Di Tour de France tahun ini, Froome bakalan ada di sana tapi bukan sebagai peselancar — dia bakal jadi brand ambassador buat sponsor Skoda. Sementara itu, Pogačar lagi nge-target gelar kelima yang bakal menyamai record. Soal itu, Froome komentar: "Dia jauh lebih muda dari gue waktu gue masih ngejar gelar kelima potential. Dia lagi amazing banget musim ini dan bakal susah buat ngeliat sesuatu yang bisa stop dia saat ini."
Terus gimana penilaian lo? Apakah Froome deserve masuk GOAT (Greatest of All Time) apesar semua kontroversi? Atau penurunan kariernya ini bukti bahwa Father Time emang always undefeated? Yang jelas, cerita Froome tuh reminder bahwa even the greatest perlu luck dan timing yang pas. See you di roads berikutnya, legend! 🏆🚴♂️



