Gue kira agency sekelas CISA (Cybersecurity and Infrastructure Security Agency) udah punya SOP lengkap buat.handle cybersecurity incident. Tapi nyatanya? Mereka harus susun playbook secara real-time pas lagi tangani insiden besar di Mei lalu. Honestly, ini kinda red flag banget sih buat agency yang seharusnya jadi garda terdepan pertahanan siber pemerintahan AS.
Jadi ceritanya, seorang security researcher dari GitGuardian nemuin expose password dan kredensial sensitif yang disimpan di repository GitHub publik. Yang bikin shocked, itu repo ternyata diupload sama employee salah satu kontraktor CISA. researcher tersebut coba kontak kontraktornya tapi gak dapat respons. Baru setelah jurnalis independen Brian Krebs hubungi CISA, baru deh repo tersebut diambil offline dan semua kredensial di-revoke serta di-replace buat cegah potensi penyalahgunaan.
Dalam post-mortem report mereka, CISA ngaku kalo tim mereka "had to spend time building [a playbook] during the early stages of the incident." Mereka juga acknowledge kalo penting banget buat prepare playbooks buat "all anticipated needs" biar organisasi bisa respond dengan cepat, bukan improvise di saat situasi udah chaos. CISA juga bilang kalo channel buat security researcher notify mereka soal potensi incident "were not well defined," dan sekarang mereka udah bikin perubahan buat nge-fasilitasi researcher lebih mudah dan cepat.
Nah ini yang bikin gue mikir, CISA sendiri udah tanpa permanent director sejak awal kepemimpinan Trump di Januari 2025. Ditambah lagi, agency ini juga kena impact dari pemotongan anggaran, furlough, dan layoffs yang nge-affect sekitar sepertiga workforce mereka. Jadi gak heran sih kalo operasinya agak berantakan. Tapi ya tetap aja, agency cybersecurity yang gak punya playbook ready itu seperti tim gaming tanpa stratguide — bisa main, tapi kemungkinan besar bakal fail spectacular.



