Jadi gini, berita terkini dari dunia automotive tuh nggak cuma soal Tesla atau BYD meluncurkin produk baru. Kali ini, Ferrari—ya bener, si mobil mewah yang jadi impian banyak orang—baru aja ngomong soal kompetitor yang lagi naik daun: pabrikan mobil dari China.
Ferrari Akui Progress China Ngebut Banget
Emanuele Carando, yang jadi Global Marketing Director Ferrari, baru aja kasih statement ke majalah Australia GoAuto. Dia ngaku kalau mobilize China tuh udah bikin progress yang nggak bisa diremehkan. Performanya? Mantap. Fiturnya? Lengkap. Comfort? Oke banget.
"Kami pikir mereka udah bikin progress nggak masuk akal soal performa. Tapi... masih agak kurang di bagian driving emotion."
Nah ini yang menarik. Buat Carando, bikin mobil yang kenceng di garis lurus itu sebenernya nggak sulit. Yang susah tuh bikin mobil yang presisi banget pas masuk tikungan—nggak oleng, nggak pitch, nggak roll—dan masih bisa kasih confidence serta emosi ke pengemudi.
Driving Emotion: Aset yang Gampang Dicontek Tapi Susah Ditiru
Inilah yang jadi pembeda utama menurut Ferrari. Carando ngasih contoh simpel:
"Lo tau lo lagi nyetir Ferrari, bukan cuma karena lo kenceng. Tapi karena setiap tikungan, setiap gerakan kemudi, punya feel yang beda."
Intinya, Ferrari ngerasa confident kalau DNA mereka di bagian driving dynamics masih ahead. Tapi mereka juga akuin kalau benchmarking kompetitor itu penting buat terus improve. Jadi bukan sombong, tapi tau posisi.
Sales di China Jeblok, Tapi Global Tetep Solid
Ini fakta yang quite interesting. Ferrari cuma bisa jual 584 unit di pasar China sepanjang 2025—itu pun kurang dari setengah angka penjualan 2023 yang mencapai 1.221 kendaraan. Jeblok parah, kan?
Tapi tunggu, jangan buru-buru think Ferrari panik. Secara global, mereka tetep nyeoret angka yang impressive: 13.640 unit di 2025, nyaris menyamai rekor 2024 (13.752 unit). They offset turunnya pasar China dengan perform bagus di region lain. Jadi intinya sih, Ferrari mungkin struggle di China, tapi secara keseluruhan masih on track.
"Konsumable" vs "Investment"
Carando juga ngasih perspective menarik soal filosofi produksi:
"China bikin mobil yang kind of consumable. Setiap bulan muncul mobil baru, dan mobil lo yang lama langsung dianggap old school."
Beda sama Ferrari yang nganggap setiap model mereka itu kayak investasi jangka panjang. Heritage dan legacy tuh nggak bisa di-copy paste dalam semalam. Dan justru di situlah Ferrari think mereka masih punya edge yang nggak bisa ditiru kompetitor—bahkan yang performanya udah ngebut kayak mobilize China.
Geek Opinion: Jadi intinya, Ferrari nggak nge-hate Chinese automakers. Mereka justru salute progress-nya. Tapi Ferrari juga nggak mau kehilangan identity mereka. Dan jujur, argumen soal "driving emotion" tuh valid banget buat para enthusiast. Karena ya, mobilize China memang bagus—tapi kalau udah nyentuh tikungan hardcore, baru keliatan bedanya. 🚗💨



