Lo pernah nggak lagi jalan pagi terus ketemu gambar makanan di menu yang bikin lo ilfeel? Bukan cuma lo—netizen di seluruh dunia lagi share foto-foto menu AI yang keliatan kayak hasil imajinasi alien yang nggak pernah makan makanan manusia seumur hidupnya. Dari burrito yang penuh ulat sampai pasta yang keliatan kayak mainan plastik, AI menu slop lagi viral dan bikin banyak orang mual.
TINGGALkan Foto Professional, Gas aja Pakai AI
Jadi gimana ceritanya bisa sampai kayak gini? Semua berawal dari shift ke menu online. Semakin banyak konsumen yang milih makanan lewat layarHP dan order delivery langsung ke pintu rumah. Restaurant owner akhirnya dipaksa untuk digitalisasi menu mereka, dan mulailah era baru di mana visual makanan jadi segalanya.
Bukannya bayar buat photoshoot profesional, banyak restoran milih jalan pintas—generative AI buat generate gambar makanan mereka. Dan jujur, hasilnya masih jauh dari kata oke. Brendan Sweeney, CEO Popmenu (platform digital marketing buat restoran), pernah cerita pengalaman dia order pizza di UberEats:
"Ada lima tempat pizza yang pake gambar AI yang sama persis."
Menurut Sweeney, kalau gambarnya keliatan "completely inauthentic" dan "obviously AI," itu malah keputusan yang lebih buruk daripada nggak pake foto sama sekali.
TasteGPT: AI yang Nentuin Menu Makan Lo
Nah, ini yang lebih mencengangkan. AI nggak cuma ngurusin gambar doang—dia juga Influence apa yang muncul di menu lo. Tastewise, salah satu perusahaan data insights terbesar di industri F&B yang kolaborasi sama brand-brand gede kayak Nestlé, PepsiCo, dan Kraft Heinz, lagi all-in sama "agentic" automations.
Mereka punya AI agents yang bisa:
- Track gimana launch produk baru
- Test konsep makanan baru (banana creatine smoothie, anyone?)
- Cari opportunity gaps di menu yang ada
Hasilnya? TasteGPT, chatbot-powered tool yang kasih insight spesifik soal tren makanan. Perusahaan bisa bayar buat akses, tapi website-nya juga nawarin beberapa free queries. Ada prompt soal tren protein-enhanced foods dan plant-based snacks yang lagi nge-hits. AI-nya nawarin dates sebagai "rising star" dan "cake-flavored plant-based snacks" sebagai tren yang relevan. Hmm, cake-drizzled mini-ricecakes emang ada di market—tapi apakah lo bakal beli?
The Good, The Bad, and The Ugly AI
Menurut survei dari Toast, sekitar 85% restaurateurs sekarang "feel comfortable" pake AI tools dan plana buat pake lebih banyak lagi di masa depan. Ini artinya, AI-generated menu bukan bakal hilang—justrubakal makin marak.
Tapi nggak semua orang setuju sama tren ini. Banyak restoran lokal yang lagi go viral karena refusenyamereka pake AI-generated posters. Mereka posting handwritten notes yang bilang kalo mereka nggak bakal ikut-ikutan. authentic rough edges dari foto makanan real masih diapresiasi sama banyak konsumen.
Sweeney sendiri提倡 pendekatan yang lebih balanced—Enhance foto makanan real pakai AI, bukan generate dari nol. "AI can now very easily patch those up, plate them all the same, and make the lighting consistent," katanya. Value-nya ada di situ.
Geek Opinion
Lo mungkin bakal kesel pas liat gambar taco yang keliatan kayak udah dijajah sama xenomorph, tapi pertanyaannya bukan "bakal nggak bakal ada AI di menu"—tapi "bakal sebanyak apa." Dalam beberapa tahun, bahkan AI image termurah pun mungkin bakal keliatan lebih menggugah selera dari yang sekarang. Tapi jujur? Nggak ada salahnya support restoran yang tetap pake foto real dan embrace those authentic rough edges. Kadang yang nggak sempurna itu justru yang paling enak.



