Lo tau gak sih, ada AI assistant yang bisa ngobrol sama lo kayak temen gebetan? Bukan yang kaku kayak chatbot biasa yang jawabnya formal banget. Nah, startup bernama Poke ini emang beda dari AI assistant lainnya — dan apparently, Cognition, startup AI coding yang lagi naik daun, setuju banget sampe mau beli mereka dengan harga yang gak murah.
🎯 Hook: AI Assistant yang Kayak Temen, Bukan Robot
Jadi gini ceritanya: Cognition, yang dikenal sebagai startup AI coding berbasis di San Francisco, baru aja ngakuisisi The Interaction Company (perusahaan di balik Poke) dalam deal yang disebut bernilai "low nine figures" — alias puluhan juta dollar. Duit gede banget cuma buat beli satu startup AI assistant.
Tapi kenapa sih Cognition mau keluarin duit segitu buat sebuah AI chat app? Jawabannya simpel: kepribadian. Poke emang gak berfungsi kayak tool coding biasa. Mereka ngobrol sama user lebih familier, bisa masukin slang, humor, bahkan bercanda kayak temen deket lo. Dan apparently, ini jadi nilai jual utama yang bikin Cognition kepincut.
"Lo mungkin lebih suka punya rekan kerja yang punya kepribadian, dibanding rekan kerja yang kayak robot," jelas Marvin von Hagen, co-founder The Interaction Company, dalam interview sama TechCrunch. "Pas lo punya rekan software engineer yang bisa bikin lelucon, lo bakal ngerasa itu lucu dan menyenangkan."
⚙️ Technical Detail: Dari 100 Juta Pesan sampe Apple Messages for Business
Data speak louder than words, bro. Dalam tiga bulan terakhir aja, pengguna Poke udah exchange lebih dari 100 juta pesan di platform mereka. Gila kan? Dan ini bukan angka sembarangan — ini bukti kalo orang emang butuh AI yang rasaya lebih human.
Selain itu, Poke juga jadi AI agent pertama yang disetujui Apple buat jalan di Messages for Business platform per Juni 2026. Ini artinya, bisnis-bisnis bisa pake Poke buat handle customer communications dalam Apple Messages dengan pengalaman yang lebih engaging.
Tapi ada satu masalah: meskipun dipake ratusan ribu orang, Poke tetap expensive buat di-run. Biaya operasional yang tinggi bikin mereka susah buat profit. Nah, di sinilah Cognition masuk — mereka punya infrastructure dan model AI yang lebih advanced yang bisa bikin Poke lebih reliable dan cheaper buat dioperasionalkan.
🔥 Key Features: Kenapa Poke Beda dari AI Assistant Lain?
1. Multi-platform messaging — Poke bisa dipake di iMessage, SMS, Telegram, bahkan WhatsApp (di beberapa market). Lo gak perlu download app baru, tinggal chat biasa.
2. Task variety — Lo bisa pake Poke buat travel planning, health advice, finance management, scheduling, bahkan education. Ini bukan AI yang cuma bisa satu hal.
3. Personality-driven interaction — Berbeda dari AI coding assistant pada umumnya, Poke ngobrol dengan slang, humor, dan tone yang casual. Bukan menjawab kaku kayak AI biasa.
4. Proactive & knows you — Poke designed buat proactively bantu lo, bukan nunggu lo nanya baru jawab.
💬 Geek Opinion: AI Punya Kepribadian = Competitive Advantage?
Ini yang bikin interesting sih. Dari dulu, kita cuma fokus ke model AI yang semakin advanced — lebih smart, lebih accurate, lebih fast. Tapi Cognition acquisition ini nunjukin satu trend baru: how AI interacts with users bakal jadi valuable assets, sama valuable-nya kayak underlying model itu sendiri.
Lo bayangin Devin, coding assistant dari Cognition. Sekarang dia kayak software engineer yang bisa coding. Tapi dengan sentuhan personality dari Poke, Devin bisa jadi "rekan engineer" yang gak cuma competent, tapi juga enjoyable buat diajak working sama.
Von Hagen juga kasih gambaran menarik ke depan:
"Poke bisa bantu Devin remember tasks across different sessions… It would be good to have a persistent co-worker."
Alias, mungkin suatu hari nanti Devin bakal punya memory yang persistent kayak temen kerja yang selalu inget semua task lo. Cool banget kan?
What's next? fo r the rest of 2026, gak ada perubahan drastis buat Poke. Mereka tetap ada di Apple Messages for Business. Tapi mulai tahun depan, tim akan eksperimen dengan SWE-1.7 model dari Cognition buat bikin Poke lebih advanced. Dan fully combining kedua produk? Von Hagen bilang gak ditolak juga — alias kemungkinan open.
Jadi intinya, industri AI lagi shift dari "yang penting smart" jadi "yang penting smart AND engaging." Personality bakal jadi differentiator utama di masa depan. Siap-siap aja ya buat era AI yang gak cuma pinter, tapi juga asik buat ditemenin ngobrol. 🔥



