Jadi gini gaes, ada warning OP banget dari mantan eksekutif DeepMind yang bikin kita semua harus mikir twice. Verity Harding, yang sebelumnya ngurusin kebijakan global AI di Google DeepMind dari 2016-2020, baru aja spill the tea tentang how dangerous "AI arms race" itu sebenarnya.
Hook: Dulu AI Itu Tentang Kolaborasi, Sekarang? Competition Matre
Pas Harding kerja di DeepMind dulu, research AI "was rooted in international cooperation." Serius, gaes. Waktu itu idenya sederhana: teknologi AI keren banget, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai, dan hal-hal itu seharusnya ditangani bareng-bareng secara global. Keren kan? Tapi sekarang? Semua berubah jadi "civilizational battle: the West versus China."
The shift happen karena dua hal utama:
- Pertama, ada yang genuinely percaya teknologi ini dangerous dan demokrasi harus pegang kunci-kuncinya
- Kedua, anti-regulation stream yang nunjuk China sebagai "bogeyman" buat nutupin mulut regulator: "If you regulate us, you let China win."
Technical Detail: ChatGPT Jadi Trigger Utama
Harding bilang ChatGPT yang launching November 2022 jadi momen pivotal. Tapi ada yang lebih interesting—ChatGPT muncul pas:
- Global pandemic lagi bikin borderless world jadi bordered lagi
- War in Ukraine lagi, dan diskusi soal AI + geopolitics tiba-tiba jadi very real
Dalam waktu yang sangat singkat, semua orang langsung accept bahwa AI = new arms race. Orang-orang langsung mapping ke Cold War, ngomongin ini kayak nuclear weapon. Dan Harding认为 ini fundamentally dangerous.
Key Features: Trump Administration = Red Flag Terbesar
Nah ini yang seru. Harding lihat Trump administration's nationalist AI rhetoric sebagai symptom terburuk dari arms race framing. Contohnya:
- Executive order soal AI yang penuh nationalist rhetoric
- Upaya impose export controls on homegrown models
Plus, Anthropic dipaksa withdraw latest frontier model dari market. Ini sih red flag level 1000.
Yang paling concerning? Harding bilang bahkan US dan China sendiri nggak bisa develop semuanya sendiri. Jadi semua strategic chokepoints ini:
- "You can't have our chips"
- "Well, you can't have our critical minerals"
- "We won't buy your product"
It's unrealistic to suggest every country can have their own completely sovereign AI stack.
Geek Opinion: Middle Powers Coalition = The Way Out?
Harding propose something yang dia sebut "middle powers coalition"— Canada, France, Japan, South Korea, India, dan UK. Kenapa ini penting?
- India punya incredible scale dan diffusion of technology
- UK punya talent dan advanced startup ecosystem
- Canada punya critical minerals
The point is: Jangan biarkan arms race framing bikin lo yakin kalau整个 game AI ini cuma binary race antara dua superpower. By believing it to be true, you make it true—lo jadi chess piece kecil di satu sisi dan always lesser.
Apa yang Bakal Terjadi Kalau Kita Lanjut Down This Road?
Harding kasih warning yang pretty dark:
- Excessive government control dan centralization of power
- Less safe and beneficial systems karena kita nggak bisa collaborate soal security, food security, atau nyingkirkan disease
- "Vassal states" yang cuma bisa milih satu superpower
Bottom line: Kalau kita terus-terusan pakai "race" language, nggak ada satu pun yang bisa calmly dan collegiately plan. Dan ini bukan soal money doang—major labs juga complicit karena arms race rhetoric accrues power ke mereka. Mereka bilang AI so powerful, so unique, that only they have the answer, and only they should be in charge.
Lo mau baca artikel aslinya? Cek di WIRED.



