Oke, jadi lo tau nggak? Beberapa waktu lalu, di NYC, London, dan Washington DC, muncul poster-poster satiris yang menempel di iklan Meta Ray-Ban. Isinya? Salah satu menyebut kacamata ini sebagai "the biggest advancement in pervert technology since the trenchcoat" — brutal banget kan? Ada juga yang tulis "mass surveillance predator glasses" di atas wajah Kylie Jenner, si duta brand Meta glasses. Intinya, masyarakat udah mulai ragu sama produk ini.
Konteks: Meta Punya Starting Position yang Kuat
Nggak bisa dipungkiri, Meta itu jagoan di ranah smart glasses. Mereka partnership sama EssilorLuxottica (Ray-Ban) dan bikin glasses yang stylish, affordable, dan actually wearable — berbeda sama Google Glass yang keliatan aneh dan bikin cringe. Meta berhasil bikin smart glasses jadi sesuatu yang orang mau pake sehari-hari. Bahkan Google dan Samsung sekarang ikut-ikutan model yang sama, partner sama Warby Parker dan Gentle Monster.
Tapi masalahnya? Meta seemingly hold all the cards tapi play them badly. Baru-baru ini mereka kedapatan mau rollout facial recognition untuk glasses, sementara privacy advocates lagi lengah. Ada juga laporan kalau mereka udah silently ship fitur face recognition ke glasses yang udah ada, tapi belum diaktifkan. Dan yang paling wild, ada laporan kalau Meta maunya glasses ini bisa record 24/7. No obat lah ya.
The Privacy Problem yang Nggak Bisa Dianggap Ringan
Mari kita ngobrol serius sebentar. Dalam 3 tahun terakhir, banyak banget "glassholes" — istilah buat orang yang pake Meta glasses buat merekam orang lain tanpa consent, kadang buat bikin konten sexualized. Parahnya, mereka bisa matiin LED indicator yang jadi satu-satunya tanda kalo glasses lagi rekam. Baru sekarang Meta announce software update yang akan disable kamera kalau privacy light mereka di-tamper. Instagram juga bilang bakal take down video yang depict harassment yang diambil pake Meta glasses.
Dr. Uttara Ananthakrishnan dari University of Washington, yang especializadas dalam bagaimana interaksi online affecting platforms dan social behaviors, bilang:
"You cannot hinge your entire privacy policy on a single light. You can't expect everyone in the world to know that and react to that."
Intinya,Meta rely banget sama satu LED doang, dan itu basically impossible to enforce.
Expert Opinion: Meta's Credibility is Gone
Kendall Schrohe, executive director Attention Sphere (salah satu grup yang ngadain anti-Meta ads), bilang brutal:
"There's not much Meta can do to convince me they genuinely care about user privacy when their whole business model is built on invading it."
Dia juga nunjukin kalau Meta dan perusahaan tech lainnya lobbying buat weaken state privacy bills — literally bikin mereka seem like they're fighting against user privacy.
Ananthakrishnan setuju dan bilang moment ini udah lewat buat Meta:
"Maybe Apple can [convince public], but I don't think either Google or Meta could pull this off given their history. It's not going to be reassuring if they put out a statement that says, 'Hey we are doing everything we can; this is our privacy policy.' People are still not going to believe that."
Geek Opinion: Meta Needs to Do Something Different or Die
Jadi gimana masa depan smart glasses? Ananthakrishnan skeptis smart glasses bakal mainstream di luar workplace khusus, bukan cuma karena social stigma, tapi karena societal attitude terhadap Big Tech udah berubah drastis. Dibandingin zaman smartphone pertama kali keluar, sekarang orang lebih aware ada "bad people on the internet who could do really terrible things."
Ini yang menarik: orang mau trade-off privacy mereka sendiri buat smartwatch karena benefit ke health goal mereka jelas. Tapi kalau data mereka leak? Mereka doang yang suffer. Dengan smart glasses? Lo yang risiko privacy ORANG LAIN tanpa consent. Privacy calculus-nya beda banget.
Kalau Meta mau survive di ranah ini, mereka perlu fundamentally change their approach — bukan cuma fixing privacy light atau bikin statement. Karena sekarang? Masyarakat lagi nontonin apa yang bakal Meta play next. Dan kalau mereka continue strategi yang sama, ya goodbye leadership di smart glasses, atau lebih parahnya, smart glasses bakal gagal total sebagai kategori produk.
What's your take? Boleh kok drop comment — asal jangan pake smart glasses buat spy orang ya 😅



