Jadi gini guys, Nations Championship - kompetisi rugbi global pertama yang baru launching - udah selesai putaran pertama dan jujur? Mixed feelings banget sih.
Momen-Momen yang Bikin Speechless
Ada beberapa momen yang jadi highlight dari Nations Championship:
- South Africa vs Wales: Springboks nge-split scrum Wales kayak belah kayu balok. Sass itu mah next level banget.
- England vs Argentina: Kemenangan Inggris jadi overshadowed sama keputusan TMO yang controversial banget di akhir pertandingan.
- New Zealand vs Ireland: All Blacks nunjukin lagi betapa lethal mereka kalau main dengan gaya catch-pass yang dulu jadi signature mereka.
Hal yang juga gak bisa di-skip: Rassie Erasmus masih jadi king of coaching strategy, dan Dave Rennie (head coach baru All Blacks) udah 3-0 di awal kepemimpinan. Gaspol!
Momen komedi juga ada - crowd di Ellis Park pada bisingin Henry Pollock, tau-tau ternyata yang diprotes itu Guy Pepper. Salah orang wkwk. Dari Cheslin Kolbe yang coruscating sidestep Cadan Murley, sampe Damian Willemse yang nunjukin performa all-round excellence, emang Springboks terlalu oke buat England.
Scotland juga compelling saat lawan South Africa, Matthieu Jalibert buat France nunjukin skill yang mantap. Ireland nge-jiak ketat lawan Australia, Wales menang lawan Fiji, dan Japan bikin Italy kaget. Apapun pendapat lo soal North v South contest, emang ada sesuatu buat semua orang - kecuali Fiji sama Argentina yang keliatannya mundur.
Masalah Lama yang Masih Nempel
Tapi ada satu snag yang terus mampir. Rugby emang jago banget buat nge-sabotase dirinya sendiri, siapapun brilhnya individu dan se-fresh apapun format baru.
Kasus Luke Jacobson (New Zealand vs Ireland): Dia lakukn clear-out ruck yang nasty dan over-the-top. Red card mah jelas banget case-nya - tapi yang dapet? Yellow card doang. Terus ada juga Quinn Tupaea yang sengaja knock-on tapi gak dapat card, padahal di game lain pemain lain di-send buat transgressions yang jauh lebih minor.
Contoh paling prime: Argentina's non-try di akhir match lawan England di Santiago del Estero. Dari perspective lain lapangan, keliatannya itu try - terus terang aja. Australian referee Angus Gardner yang berdiri cuma beberapa yard juga keliatannya yakin itu try.
Tapi makin lama proses TMO, makin banyak angle slow-motion yang muncul, makin banyak pertanyaan. Bisa aja argument dibuat dari "no try" (jadi England menang) sampe penalty try (draw 31-31).
Dan pas keputusan finally keluar, whistle berbunyi - game yang seharusnya 80 menit jadi berlangsung hampir dua jam lebih (hampir sepanjang versi full lagu kebangsaan Argentina). Drama dan warna dari Bautista Delguy's dive sama Henry Slade's cover tackle udah jadi greyscale irrelevance karena minutiae hukum yang gak pernah didesain buat repeated trial by video.
Ide-Ide yang Layak Dipertimbangkan
Beberapa saran buat rugby:
- TMO cuma buat head injuries sama serious foul play - keputusan lain jadi milik wasit lapangan.
- Knock-on yang gak deliberate (selain defensive slap-down dekat try line) gak perlu kuning lagi. Tim yang diuntungkan bisa milih scrum atau tap penalty 20 meter ke depan.
- Cuma kapten yang boleh ngomong sama wasit.
- Orange card 20 menit buat pemain yang guilty of head contact - biar hilang confusion "red or yellow?" yang bikin pusing.
Authorities juga harus acknowledge kebutuhan untuk kurangi volume kicks to the corner yang predictable, seguido close-range lineout drives yang-itu-itu aja. Tournament promoters harusnya nuntut tim nasional lebih proactive soal spreading rugby lewat media.
Kesimpulan
Juri masih out soal gimana November nanti - dua tim yang gak pernah kalah (dari hemisphere yang sama) gak bisa ketemu di final. Dan gimana nanti soal ticket sales kalau tim tertentu udah out dari title contention?
Secara logistikal emang tough banget ( kaya Ben Earl bilang). Tapi hey, it's a long way to the top if you wanna ruck and maul.
Jadi gimana menurut lo? Nations Championship ini udah worth it belum buat spectator? Atau masih banyak yang harus di-fix dulu? Share di kolom komentar ya!



