Pejabat DHS Banting Setir dari Pro-Trump Jadi Kritikus Paling Vokal: 'Perang terhadap Imigran'
Marc Rosenblum, Director Eksekutif Office of Homeland Security Statistics (OHSS), baru aja umumkan pengunduran dirinya dari Department of Homeland Security (DHS) AS. Dan bukan cuma resign biasa—dia secara terbuka mengkritik kebijakan imigrasi pemerintahan Trump yang dia sebut sebagai "perang terhadap imigran."
Dalam postingannya di LinkedIn, Rosenblum nulis dengan nada kecewa yang mendalam:
"I'm thrilled to end my relationship with the current administration. Between the war on immigrants, the war on feds, and the war on facts (not to mention the crazy war in Iran and the brazen corruption), I just need a change."
Nah, ini yang menarik. Rosenblum sebenernya udah ngelola data di DHS dari era Trump pertama, Biden, sampe sekarang Trump lagi. Dia dapot tugas buat consolidate semua data dari 22 komponen lembaga yang berbeda di DHS—mulai dari interdiksi Coast Guard sampe Border Patrol encounters.
Misi dia simpel: bikin semua data itu bisa diakses secara terpusat. Tapi ternyata, di era Trump 2.0, misi itu jadi susah banget.
"He had one of the most interesting charges at DHS," kata mantan kolega Rosenblum ke WIRED. "There's 22 component agencies, and so there are 22 different ways of aggregating data that were just completely siloed."
Jadi Rosenblum harus bikin sistem yang nyambungin semua data ini. Tapi yang jadi masalah sekarang: data-data itu udah nggak di-update sejak Februari 2025. Situs OHSS yang seharusnya nerbitin data soal detensi ICE, Border Patrol, sampai repatriasi, nggak keurus sama sekali.
Yang bikin makin nggak enak, banyak data yang muncul sekarang ini harus dipaksa keluar lewat gugatan FOIA (Freedom of Information Act). Analis bilang, data-data itu sering nggak lengkap dan nggak bisa diandalkan.
"There's no accountability, no way to assess, no public understanding about what's really going on that is not curated by a press release from the agency," kata David Bier dari Cato Institute.
Nah, Rosenblum ini bukan tipe yang baru belajar soal imigrasi. Dia udah lama berkecimpung di bidang ini—jadi immigration specialist buat Congressional Research Service, ngurusin statistik imigrasi di DHS, dan pernah testify di Senate committee soal kebijakan deportasi massal.
Ini yang menarik dari kesaksiannya di Senate tahun 2015: dia udah ngingetin bahwa deportasi massal itu risky, mahal, dan cruel. "The deportation dilemma is that more humane enforcement is fundamentally in tension with stricter immigration control," tulisnya waktu itu.
Dan sekarang, janji kampanyenya Trump 2024 emang seputar deportasi massal. Jadi Rosenblum ngeliat kebijakan yang dia udah prediksi bakal bermasalah sekarang jadi kenyataan.
Nah, Rosenblum ini salah satu dari sedikit pejabat federal yang berani speak up soal kebijakan imigrasi Trump. Kebanyakan pejabat DHS yang mundur—kayak Acting ICE Director Todd Lyons atau Acting FEMA Chiefs—pilih diem aja soal kontroversi kebijakan ini.
DHS sendiri nolak komen soal komentar Rosenblum, cuma bilang "People are always welcome to their opinion—that doesn't make it right or factual."
Tapi mantan kolega Rosenblum, Luis Miranda yang waktu itu top DHS spokesman di era Biden, ngeluarin statement yang epic:
"Marc was exactly what every American should want in a career public servant. The Trump administration has governed by silencing or ignoring facts and information they believe doesn't line up with their extreme rhetoric, and that has damaging implications."
Intinya sih simpel: Rosenblum orang yang dedication-nya ke transparansi dan fakta. Dan pas dia ngerasa nggak bisa jalankan misi itu lagi, dia milih jalan lain.
Ini sih... red flag level max buat pemerintahan yang seharusnya serve rakyatnya. Jadi kapanver lo denger ada pejabat yang resign dan speak up, lo tau ada sesuatu yang nggak beres di balik layar.
Tapi ya, mudah-mudahan aja ada lebih banyak lagi yang berani speak up. Soalnya transparency dan accountability itu kunci demokrasi.



