Jadi gini, para penulis sekarang lagi rame-ramenya bikin gerakan counterculture yang anti-AI. Bukan dengan cara nge-blok ChatGPT atau apa, tapi dengan cara yang jauh lebih aesthetic: mereka intentionally bikin typo dan buang semua hal yang berbau "robot banget" dari tulisan mereka.
Em Dash? No Obat, Bro
Dulu siapa yang nggak suka em dash (—)? Tuh kan, sekarang kamu baca juga pasti langsung ngerasa "ini mah tulisan berbobot." Tapi sekarang, para penulis justru actively avoid这东西. Laura Brooke Robson, novelis yang nulis Love Is an Algorithm, bilang dia sekarang menghindari yang namanya em dash, triple list, sama wishy-washy metaphors. Dia bahkan bikin sentences yang dulu nggak akan pernah dia coba—all because of LLMs.
"I have this urge to make little mistakes, like winks to the reader, to show that there's a human behind the words," kata Robson. Intinya, dia mau kasih signal ke pembaca: "Yo, ini gue yang nulis, bukan robot." Genius sih sebenernya, because sekarang justru kesalahan kecil yang bikin tulisan terasa authentic.
First-Person is the New Black
Yang paling kentara sih di industri publishing. Editor-editor di berbagai majalah sekarang mulai encourage writers buat lebih personal dan conversational. Richard Fisher dari Aeon bilang dia sekarang malah "don't want to sand out the rough edges" dari tulisan—karena AI cannot write prose as spiky atau idiosyncratic sebagai manusia.
Mano Sundaresan dari Pitchfork even nge-kirim memo ke semua writers kalau nggak boleh pakai AI sama sekali buat filing review copy. Mereka actively mendorong first-person perspectives. Playboy juga, dong. Editor-in-chief Philip Picardi bilang setelah dia eksperimen pakai Claude, dia bisa nge-detect kalau majority of pitches yang masuk itu generated by AI. Sejak itu, dia actively cari writing yang lebih "formally adventurous," nunjukin ke teoritis kayak Foucault atau bell hooks yang "challenged language just by refusing to capitalize her name."
Typo as a Feature, Not a Bug
Ini bagian yang paling wholesome sih. Jessye McGarry dari Clickhole bikin artikel titled "5 Reasons to Love Summer (NO AI)" yang isinya literally typo di mana-mana. "When summer's here, you can finally shake off the winter blues and get out in the beaitiful sunshine!"—itu bukan salah ketik accidental, bro. Itu intentionally left in.
"It took more work to leave it in, because I had to undo the autocorrect," kata McGarry. Jadi yang dia lakuin tuh ironically justru lebih ribet dari biasanya, all just to prove dia manusia.
Di LinkedIn juga rame banget. Ray Slater Berry dari dslx bahkan ngakuin kalau "we will always be writing in the first-person from hereon out." Mereka bahkan hold monthly meetings buat recap AI trends dan update dokumen mereka biar human-created copy mereka nggak pernah sounding like AI.
The Real MVP: Ben Horwitz & Sinceerly
Okay ini sih inovasi yang quite genius. Ben Horwitz bikin app namanya Sinceerly—yang dia sebut "anti-Grammarly." App ini deliberately leaves typos in emails dan nge-sign messages off with "sent from my iPhone." Ketika dia A/B test emails against standard ones dengan ngirim ke Fortune 500 CEOs? Hasilnya? Yang di-open cuma email-email yang lowercase, misspelled subject lines.
"People now have a thirst for something different and for a lack of uniformity," jelas Horwitz. Jadi sekarang uniformity itu actually bad, dan imperfection justru jadi selling point.
Apakah Ini Beneran Counterculture?
John Warner, veteran writing teacher yang publish buku More Than How to Think About Writing in the Age of AI, bilang fenomena ini mungkin justru reinstate the value of good writing. Dia spent years trying to kill the typical five-paragraph student essay—yang sekarang justru ChatGPT produce dengan sangat mudah.
Tapi hold up, ada twist. McGarry sendiri yang bilang, "Whatever cosmetic counterstyle is created in response to AI, AI could mimic. The only true counterstyle is good writing." Jadi intinya, semua usaha biar nggak kedeteksi AI itu temporary solution. Yang lasting cuma good writing anyway.
Tapi hey, gerakan ini tetap cool banget sih. Siapa sangka kalau typo bakal jadi status symbol? Who would've thought, right? Yang jelas, ini era yang seru banget buat jadi writer—dimana justru human touch jadi semakin valuable di tengah serbuan AI content everywhere.



