Oke, gue harus jujur nih. Dari dulu gue emang rooting buat Volvo. Merek yang mulai serius banget soal elektrifikasi, dan XC40 Recharge juga jadi langkah awal yang oke. Tapi Volvo EX30 ini... bro, ini kayak swing and a miss yang parah banget.
Volvo EX30 awalnya dijanjiin jadi game changer—EV terjangkau dengan harga $35,000 dan range 300 mil. Realitanya? Mobil ini udah discontinued di pasar AS sebelum genap dua tahun dijual. Sebelum benar-benar hilang, gue dapet kesempatan nyoba EX30 Cross Country selama seminggu, dan mari kita ngobrolin gimana semuanya bisa salah.
Eksterior? Ga Ada yang Salah Di Sini
Bagian luaran mobil ini actually worth it. EX30 Cross Country terlihat lebih gede dari ukurannya, dan desainnya emang handsome banget. Ada "grille" yang sebenarnya peta topografi gunung di Swedia—signature design yang unik dari Volvo. Headlights blocky-nya next-gen, plus warna Sand Dune yang exclusive buat trim Cross Country ini cantik banget, contraste sama black accents dan plastic cladding.
Ada hidden moose kecil-kecil yang disebar di bodi dan interior—detail Scandinavian yang cute. Overall, dari luar, mobil ini emang mencuri perhatian.
Interior: Tempat Semua Hal Jadi Ribbon
Nah, di sinilah segalanya mulai runyam.
Mari kita mulai dari yang paling simple: port USB-C. Ada dua di depan. Locatie? Di lantai kendaraan, di bawah dua flap yang almost impossible buat di-adjust sambil nyetir. Kenapa harus di bawah? Not a clue.
Terus soal HVAC vents—semua adjustment dilakukan lewat screen. Mau arahin angin ke badan? Di mobil normal lo geser nozzle ke bawah. Di EX30? Instead, vents nya nutup sepenuhnya. Kenapa? Again, not sure.
Screen 12.3 inch yang jadi satu-satunya dashboard ini letaknya di tengah mobil, apparently buat hemat biaya karena ga perlu engineer dua dashboard berbeda untuk left-hand dan right-hand market. This feels like it should be illegal.
Oh iya, Google navigation-nya juga bikin frustasi. Waktu gue minta arah dari Baltimore ke Rehoboth Beach, Delaware, dia cuma kasih empat charging station. Reality check: ada dozens of charging stations di route tersebut, tapi Google system ga nunjukin kecuali lo search manual. This actively depletes you of limited charging infrastructure.
Apple CarPlay? Ada, tapi works sometimes. Lo bisa connect, tapi good luck opening it atau streaming music lewat it. How GM of Volvo, honestly.
Other baffling decisions:
- No center console (cupholder storage doang)
- Hanya dua window controls yang harus switch antara front dan rear
- Wireless charger nge-charge phone cuma 30% dalam tiga jam
- Haptic touch buttons di steering wheel suka nempel
- Long-press buat buka trunk di screen
- Dan kalau lo coba cek speed di center screen, mobilnya beep nyuruh lo balik alihkan mata ke jalan
Rear cabin? Fine aja. Legroom ga great, tapi headroom ga seburuk roofline-nya karena floor-nya rendah. Trunk space 11.2 cubic feet (seats up) atau 27.8 cubic feet (seats down)—enough buat dua suitcase besar atau five 20-pound bags of ice, tapi janganexpect ini muat buat keluarga four.
Performa: Gaspol, Tapi Range-an Nangis
Di atas kertas, EX30 Cross Country ini absolute monster. 69.0 kWh battery, 422 HP, 400 lb-ft torque, all-wheel drive, dan 0-60 mph dalam 3.4 detik—making it the quickest Volvo ever built.
Tapi here's the thing: kalau lo drive ini di mode selain battery-saver, mobil ini wheelspins at the drop of a hat. Power delivery-nya optimized kayak Jeep Wagoneer S—laggy dan unpredictable. It's unnecessary, honestly.
Untungnya, handling-nya emang bagus. Untuk mobil seberat 4,151 pounds, EX30 terasa ringan dan ga ada body roll yang annoying. Baltimore roads yang full pothole? Diatasin dengan mudah. This is the experiential highlight of the car.
Tapi range? 227 miles claimed? That's not true (at least, not in real life). Gue driving 140 miles sekali jalan dan baterainya makan lebih ke 170 miles—and that was hanya karena gue drive in battery-saver mode. Regular mode? Kills the battery fast.
Charging juga problematic. No Tesla NACS在这里—EX30 pakai CCS port kayak Electrify America. Fast charging 28 menit (10-80%), tapi standard charging 8 jam. Yang bikin frustrating, CCS networks notoriously unreliable, dan gue juga experiencing connection issues sama non-fast charging plugs—screen bakal muncul "loose plug, charging stopped" after a couple minutes.
Verdict: Volvo, What Happened?
$49,545. That's the as-tested price. This is not the $35,000, 300-mile EV yang dijanjiin.
Gue ga punya kata lain selain "sad." This is $50K buat mobil yang ga bisa nawarin range sekelas Toyota BZ termurah. It's borderline unacceptable dari car company yang capable of way, way better things.
I own a Volvo. I've been rooting for them for years. Dan ya, Volvo allegedly udah dalam proses replace EX30 with something similar untuk US market—which gives some hope. But for now, this car cannot happen, ever again.
Gue tunggu kesempatan nyoba EX60 sometime, dan hopefully ninggalin semua worry ini di belakang. Tapi jujur? First time in my life, gue skeptical sama Volvo.
Pros: Looks great, handles well, excellent Harman Kardon soundbar
Cons: High price, bad range, baffling interior decisions, unreliable tech
Yang mau liat lebih detail specs dan foto-foto, bisa cek sumber aslinya di Motor1.



