Jadi gini, X (mantan Twitter yang sekarang dikuasai Elon Musk) lagi gas banget ngomel-ngomel soal kebijakan Australia yang mau banned anak di bawah 16 tahun dari social media. Mereka nggak cuma ngomel doang, tapi juga ngajuin argumen baru yang "wah banget" ke parlemen Australia.
Australia Lagi Geber Kebijakan Anti-Child di Social Media
Dalam submission ke parlemen Australia yang dipublish hari Selasa, X nyebut kebijakan ini "highly invasive" dan bilang kalau proposal buat nge-press platform social media buat buktiin kalau mereka udah effort crackdown underage access itu "unnecessary, ill-suited, unfair, and could violate privacy rights." X juga ngeluh kalau demanded information gathering powers ini nggak ada safeguard buat confidential dan commercially sensitive information.
Yang lebih interesting, X ngeluh kalau demanding data, documents, dan compliance evidence dari non-Australians di other countries bisa cause issues "for the comity of nations." Intinya sih mereka bilang: "Hey, jangan伸出你们的手太长到我们这边来." Hmm, wait, sorry salah." Intinya X bilang kalo regulasi ini bisa ganggu hubungan internasional.
Musk Sendiri udah Vokal Kritik Kebijakan Ini
Ingat nggak sih, waktu Australia announce legislation ini akhir 2024, Musk langsung nge-tweet "Seems like a backdoor way to control access to the Internet by all Australians." Dan February lalu, waktu PM Spanyol Pedro Sánchez announce similar measures, Musk nge-call dia "tyrant" dan "true fascist totalitarian." Dramatis banget kan? Elon emang suka banget nge-tweet yang kontroversial.
Australia sendiri udah banned under-16s dari social media sejak December, dan Mei lalu nge-fine X $463,000 buat gagal comply sama child safety measures. eSafety (internet regulator Australia) nge-fine X karena mereka nggak nge-respond sufficiently ke request for information soal gimana X nanganin spread of online child sexual abuse content.
Expert Perspective: X Nggak Selalu Betul
Nah ini yang menarik. Stefania Di Stefano, researcher in international law and technologies, bilang kalo "complete ban from social media on children and minors is problematic from an international human rights perspective" karena "disproportionate with respect to the right of children to exercise their right to freedom of expression, their right to access information, their right to association." Jadi bukan power-nya yang bermasalah, tapi justru si ban itu sendiri yang questionable dari human rights perspective.
Professor Julia Hörnle dari Queen Mary University of London juga skeptis sama argumen X. Dia nyebutin kalo regulator Australia minta X disclose dokumen soal bisnis mereka di Australia itu "perfectly fine" dan dari semua data yang dipunyai social media company, "they can distinguish between Australian and non-Australian children, and therefore keep regulation to Australia." Jadi argumen X soal interference with foreign law kayaknya kurang landing sih.
So intinya:
X emang struggle sama regulations Australia, tapi argumen mereka soal international law kayaknya kurang dapet support dari para expert. Yang jelas, ini jadi interesting battleground antara privacy, child safety, dan freedom of expression. Kita liat aja gimana kelanjutannya—Elon Musk kayaknya bakal terus ngomong di X soal ini. 🔥



