Lo pasti tahu kan, jadi atlet profesional tuh nggak seglamor yang orang kira?
Nah, Amanda Anisimova buktiin banget nih. Bintang tennis asal Amerika ini baru aja ngungkapin perjalanan mental health-nya yang awalnya bikin dia almost quit dari dunia tennis. Spoiler: ternyata langkah itu jadi keputusan terbaik yang pernah dia ambil.
Dari Junior Starsight ke Breaking Point
Di Mei 2023, Anisimova announce kalau dia bakal take indefinite break dari tennis. Bukan tanpa alasan, ya. Gadis yang pernah jadi semi-finalis French Open 2019 ini harus ngelewatin sudden death ayahnya, Konstantin, beberapa bulan setelah itu. Combine sama burnout dan lack of motivation, dia finally decided kalau dia butuh waktu buat diri sendiri.
"Itu keputusan terbaik yang pernah gue ambil," terang Anisimova dari New York, jelang US Open. "Gue belajar gimana pentingnya punya keseimbangan di dalam dan luar lapangan. Dulu, gue nggak pernah prioritize hal kayak recharge diri sendiri atau ambil waktu buat gue. Practice terus, main terus, tanpa henti—dan itu yang bikin gue sampe breaking point."
Self-Awareness Level: Maxed Out
Sekarang, tiga tahun setelah break-nya, Anisimova udah jauh lebih aware sama kondisi mentalnya. Dia bisa recognize early signs kalau lagi approaching burnout phase.
"Sekarang gue jauh lebih self-aware," kata dia. "Dulu, gue pikir rasa lelah dan nggak termotivasi itu normal—tapi sebenernya nggak. Sekarang gue langsung notice dan handle sebelum jadi parah."
Tennis tour itu 11 bulan non-stop, jadi nggak gampang cari waktu buat diri sendiri. Tapi Anisimova nemu jalan: kalau dia nggak feeling it di practice atau match, dia langsung take a break. No obat, langsung gas.
dari Nightmare Wimbledon ke Redemption Arc
Yang bikin Anisimova resilience-nya OP banget adalah response dia waktu mengalami mimpi buruk di Wimbledon 2025.
Dia sampe ke final Grand Slam pertama kalinya—kemudian dihajar 6-0, 6-0 sama Iga Swiatek dan jadi wanita pertama yang nggak bisa menang satu game pun di final Wimbledon dalam lebih dari seabad. Banyak orang mungkin bakal down berat dari situ.
Tapi Anisimova? Steel mood.
"Gue coba punya banyak perspective," jelas dia. "Wimbledon final itu painful banget, tapi reach final Grand Slam pertama itu milestone gede. Ambil 10 menit buat reset dan lihat gambaran besarnya—itu yang ngebantu gue."
Setelah final itu, dia langsung revenge-liga Swiatek di US Open 2025 dan sampe final lagi. Dia juga nge-WTA Tour title ke-4 di China dan sampe semi-final di WTA Finals. January lalu dia nge-top 3 dunia, then wrist injury stop momentumnya—but she bounced back stronger.
US Open 2026: Waktu yang Tepat untuk Chrome?
Sekarang Anisimova udah balik di bentuk terbaiknya—quarter-final di Cincinnati bikin orang-orang excited buat US Open. Dengan backhand terbaik di tour dan timing yang chef's kiss, dia punya semua yang dibutuhkan buat jadi champion.
Banyak kompetitor utama kayak Sabalenka lagi nggak konsisten, jadi ada celah buat seseorang naik. Sebagai salah satu best player yet to win a major, Anisimova definitely under pressure, tapi dia nggak mundur.
"Challenge emang nggak se-glamor yang orang kira," kata dia. "Tapi gue love it. Lo nggak bakal sampe di titik ini tanpa keluar dari comfort zone—dan gue think that's the key."
With US Open di家门口 (at home surface yang dia suka), Anisimova siap gaspol. Target? Pertama, nge-Win Grand Slam. Buat dia, itu yang completes a tennis player's life. 🔥
Gue pribadi: Kisah Anisimova ini sih masterclass soal pentingnya mental health di dunia olahraga elite. Banyak yang kira atlet sekelasnya 'gak mungkin' burnout—padahal justru di level tinggi, tekanan itu intense banget. Respect buat dia yang mau ngakuin vulnerability-nya dan actually do something about it. Top-tier mindset.



