Jadi gini, ngomongin rivalry cricket Inggris vs Pakistan tuh sebenernya udah ada dari 1954 lho. Banyak banget momen iconic, cultural ties yang kuat, bahkan skandal-skandal yang bikin bumbu banget. Tapi yang bikin aneh? Sampe sekarang belum ada trofi permanen yang ngebedain rivalitas mereka.
Bandungila, Inggris aja punya Crowe-Thorpe trophy sama New Zealand, masih harus mempertahankan Basil D'Oliveira dari South Africa, dan_TARGET_-nya nge-rebut Ashes dari Australia. Meanwhile, Pakistan? Mereka masih commissioning trophy berdasarkan sponsor yang lagi tersedia—kayak terakhir di mana mereka angkat "Bank Alfalah presents Kingdom Valley trophy."
Nah, sampai ada yang bikin trophy yang lebih bermakna, serie ini dijulukin "El Dysfunctiono"—ngaku deh, kedengarannya kayak something yang Pelé raised awareness tempo hari. Tapi cocok banget sih, soalnya kedua tim ini sama-sama jago banget dalam hal self-sabotage yang bikin supporter auto gas clean.
Pakistan Lagi Down parah, Bro
Mari kita ngomongin si green half of El Dysfunctiono dulu. Pakistan lagi di posisi yang pretty rough—mereka basically frozen out dari top table ICC dan masih satu level di atas posisi paling bawah di World Test Championship. 18 Tests terakhir? 13 defeat, termasuk rekor 8 kali kalah berturut-turut loin dari rumah (away). Cuma ended this month waktu mereka draw 1-1 sama West Indies di Caribbean, jadi ya... ada progress dikit?
Yang bikin makin chaotic, mereka udah ganti-ganti head coach dan team director 11 kali dalam 5 tahun terakhir across semua format. 11 kali! Itung-itungannya bisa bikin kepala muter. Dan sekarang? Mereka balik lagi ke Babar Azam sebagai Test captain. Despite the fact dia lagi struggle parah—36 innings without a century. Dan yang bikin lebih wild, Babar bakal miss serie opener karena hand injury, jadi Salman Ali Agha yang harus step in. Talk about drama.
Inggris? Namanya Juga juga kurang sreg
Di sisi lain, Inggris emang lebih stabil secara komparatif dan punya akses ke Jay Shah (ICC chair). Mereka juga nggak sembarangan replace coach setelah winter Ashes yang kurang oke. Tapi kalau dipikirin, mereka tetep ended up lose ke New Zealand bulan Juni, turun ke posisi tujuh di nine-team WTC table, dan posisinya actually lebih berantakan dari sebelumnya.
Ben Stokes resigned, Brendon McCullum lost half his job sebagai head coach, dan sekarang Inggris lagi dalam fase "semi-reset." Solusinya? Kembali lagi ke Joe Root sebagai kapten. Ini press conference pertama dia full-time basically sama kayak sebelumnya—polite, engaging, tapi somewhat light on substance. Root sendiri ogah kalau dibandingin sama first stint-nya dulu, dia bilang dia udah jadi person dan cricketer yang very different dari empat tahun lalu.
Pratinjau Serie: Cuaca Jadi Faktor Utama?
Jadi intinya, Root mau lead tim yang lebih adaptable dan nuanced—bukan yang satu-size-fits-all approach. Fokusnya di tiga Tests ke depan. Tapi ada yang bikin task ini makin tricky:
- No Ben Stokes = balance dan presence yang berkurang
- New Test coach Stephen Fleming baru mulai pas winter, jadi Marcus Trescothick jadi interim
- Tight turnaround abis main di Hundred sebulan penuh
- Pakistan udah practice sama red ball untuk minggu-minggu ini
Untungnya buat Inggris, cuaca lagi di sisi mereka. Heatwave yang sebelumnya bikin rencana tanpa frontline spinner keliatan bodoh, sekarang udah digantikan sama clouds yang nunjukin quicks bakal jadi OP between showers. Tapi ya, weather di Inggris tuh notoriously unpredictable, jadi bisa aja berubah jadi chaos.
Geek Opinion: Serie ini basically definisi "expect the unexpected." Dua tim yang sama-sama struggling, sama-sama recentring ke veteran captain mereka, dan sama-sama punya track record buat self-destruct di momen krusial. Kalau lo butuh konten buat nemenin weekend sambil sambil overthinking hidup, this is it. Siap-siap aja nonton drama yang levelnya kayak series Netflix, tapi ini cricket.



