Jadi penggemar Tour de France? Pasti tau dong, Prancis udah nunggu successor Bernard Hinault alias "The Badger" selama hampir 40 tahun. Yep, sejak 1986. Itu artinya tiga dekade lebih harapan tinggi, flop, dan air mata. Tapi sekarang muncul nama yang bikin seluruh Prancis nge-gas: Paul Seixas, 19 tahun.
Dari "The Badger" ke "The Professor", lalu Kosong
Gue harus kasih context dulu nih. Bernard Hinault, dijuluki "The Badger" bukan cuma karena fisikanya—tapi juga karena cara dia balapan. Keras, agresif, dan gak takut jatuh. Lima kali menang Tour de France, terakhir di 1985. Sejak dia pensiun di 1986, Prancis kayak kehilangan identitas.
Lalu ada Laurent Fignon, dijuluki "The Professor" karena gayanya yang more calculated. Fignon actually sempat nge-fight Greg LeMond di 1989—masuk history sebagai salah satu finish paling dramatis ever. Tapi 4 Juli 1990, dia abandon. Pasrah di feed zone antara Avranches dan Rouen, kedinginan dan kehujanan. Dari situ, era pencarian panjang dimulai.
Nama-nama yang gagal: Richard Virenque, Luc Leblanc, Laurent Jalabert, Romain Bardet, Warren Barguil, Thibaut Pinot. Semua pernah jadi favorit, semua eventually crumble. Pinot? Yang paling dekat. 2019, dia nge-climb kayak dewa, French crowd udah siap nangis bahagia—terus abandoned karena otot paha kiri robek. Dalam posisi fifth. The pain.
Paul Seixas: Skills yang Gak Bisa Dibohongin
Nah, masuk Paul Seixas. Remaja 19 tahun ini bukan tipe yang mau ngamar dan tunggu waktu yang tepat. Nope. Dia attack.
Momen paling iconic? Stage 4 Tour of Basque Country. Convention bilang dia harus conserve energy karena udah lead klassemen. Tapi dia? Attack di descent. Di TURUN. Dapat 20 detik advantage dari rival-rivalnya. Completely gratuitous attack, kata William Fotheringham. Tapi itu exactly gaya Hinault.
Sebelum itu, dia udah bikin dunia cycling melek:
- 7 Maret 2026: Strade Bianche, nempel di wheel Tadej Pogacar (briefly, tapi tetep impressive)
- 22 April 2026: Flèche Wallonne, youngest winner ever, dislodged field di final meters
- 12 Juni 2026: Tour Auvergne Rhône Alpes, recover dari crash berat dan nge-comeback dari defisit menit-an
Cyrille Guimard, guru cycling legendaris yang nurture Hinault dan Fignon, bilang dia "never seen the likes of" Bardet, Virenque, atau Pinot shred the field uphill kayak Seixas bisa. Gak sembarangan kalau Guimard (sekarang 79 tahun) ngomong gitu.
The Challenge: Antara Panache dan Exit
Here's the thing—Seixas emang OP skill-wise, tapi risk juga gede. Di Tour Auvergne Rhône Alpes, chute hampir jadi downfal-... undoing-nya. Gaya balapnya yang flamboyan itu double-edged sword. Kalau dia terlalu konservatif, jadinya anticlimax. Kalau terlalu ngikutin instincts? Could be undone by his own youthful insouciance.
Dan yang paling wichtig: dia harus ngadepin Tadej Pogacar dan Jonas Vingegaard. Dua champion Tour de France abad ke-21. Bukan lawan yang bisa di-spam report.
Gue sih personally hyped. Tapi sejarah Prancis itu harsh. "The dramatic, tragic story of a Frenchman who captivates the home crowd and is forced out by ill fortune and great physical suffering" udah jadi plotline yang terlalu familiar, menurut Pinot di 2019.
July ini, endingnya beda? We'll see. Tapi kalau Seixas attack di descent lagi kayak di Basque Country, gue personally mau liat itu happen live.



