Jadi gini, kalian masih inget DOGE (Department of Government Efficiency) yang dipimpin Elon Musk beberapa waktu lalu? Nah, abis Musk cabut dari pemerintahan Juni 2025 kemarin, muncul entity baru yang jauh lebih quiet tapi nggak kalah kontroversial: National Design Studio (NDS).
Apa Itu NDS?
NDS dipimpin sama Joe Gebbia, cofounder Airbnb yang sekarang berperan sebagai Chief Design Officer AS. Misi mereka? Bikin semua website pemerintahan "beautifully designed" dengan user experience yang bagus. Solid sih misinya, tapi hold up—ini bukan proyek pemerintah biasa.
NDS retain banyak banget hallmarks dari DOGE, termasuk team members-nya, struktur yang super opaque, dan seem nggak adhere sama rules dan sistem federal yang udah ada. Seriously, ini kayak sequel yang nggak diminta tapi tetap released.
Eksodus dari DOGE ke NDS
NDS jadi landing pad buat beberapa operatives kunci DOGE. Yang paling viral: Edward "Big Balls" Coristine dan Akash Bobba. Keduanya udah WireD identifikasi sebagai bagian dari young engineers yang formasinya core DOGE.
Fun fact (not really): Coristine cuma 19 tahun pas join government, dan kabarnya pernah dipecat dari network monitoring firm setelah dicurigai bocorin internal info. Sekarang? Dia jadi Head of Engineering di NDS. Red flag much?
Proses Rekrutmen yang Super Red Flag
Nah ini bagian yang paling gas clean. WireD ngomong sama satu engineer yang pernah interview di NDS, dan cerita mereka literally bikin kita speechless.
- Engineer ini nggak ngajuin lamaran—dihubungin langsung sama Coristine via cold pitch
- Nggak ada recruiter di interview call, cuma Coristine doang
- Coristine nggak ngerti skill set yang dia cari
- Engineer comment: "I don't think there was any process established"
Normies bakal pikir ini startup biasa, bukan agensi pemerintah. Process rekrutmen mereka lebih casual dari interview di coffee shop, dan itu literally terrifying untuk posisi pemerintahan AS.
Tool 'Rampart': Solusi atau Side Quest?
NDS baru ngeluarin tool bernama Rampart, yang claim-nya buat prevent PII (Personally Identifiable Information) keluar dari browser user, apalagi kalau pakai chatbot. Concept-nya mirip OpenAI's privacy filter, tapi jauh lebih kecil dan simpel.
Masalahnya?
"It feels very counterintuitive because in most instances, when you are asking for PII, you want PII," kata si engineer. "You don't want that information redacted."
Valid point sih. Di konteks government services, users literally butuh give PII kayak SSN atau address buat akses benefits. Redacting itu literally counter-productive.
Privacy Concerns? Big Yikes
Ini yang bikin kita nggak bisa sleep tranquilo. Juni lalu, The Guardian nge-report kalau NDS kelihatannya lagi bikin website baru untuk passport dan voter registration. Sites mereka pake commercial tracking tools yang nggak keliatan comply sama Privacy Act.
Worst part? Pas Bobba ngomong sama National Association of Secretaries of State tentang voter registration website, dia literally bilang:
"I don't know what they retain and what they are logging."
Bruh, kamu bikin website yang handle data sensitif tapi nggak tau apa yang diretain dan di-log? No obat.
Geek Opinion
NDS ini case study menarik tentang gimana Silicon Valley mentality bisa super problematic pas masuk government. Innovation without proper process? That’s just chaos with better branding.
Tool kayak Rampart mungkin ada bagusnya, tapi execution dan transparency mereka? Zero stars. Ada aja sih organization yang mission-nya bagus tapi execution-nya kayak early access game—full of bugs dan unfinished features.
Kita bakal pantau terus perkembangan NDS ini. Karena jujur? Ini salah satu story tech government paling wild yang pernah kita liat. 🚀



