Lo tau nggak, punya dealer mobil listrik di era 2020s itu basically roller coaster emosi? Dari snob karena demand tinggi pas Covid, lalu dapat tax credit $7.500 dari federal, terus ditendang lagi kalau tax credit-nya dicut. Dan sekarang? Ada drama baru yang bikin dealer Polestar di AS pada shocked parah.
Matthew Haiken, owner Polestar Short Hills di New Jersey—yang juga punya tiga dealer lain—lagi nangis diam-diam nih. Soalnya Polestar bilang Anfang Juli bahwa Departemen Perdagangan AS menolak authorization yang seharusnya bikin mereka bisa terus jualan di US despite aturan federal yang ngelarang mobil dengan connected-vehicle technology buatan China.
Apa sih yang Terjadi?
Jadi begini kronologinya: Pemerintahan Biden resmi approve connected-vehicle rule di Januari 2025. Aturan ini intinya ngelarang hardware dan software automotive yang dibuat di China dan Russia.정부 officials argumen ini perlu demi national security karena kamera, mikrofon, dan GPS di mobil yang terhubung internet itu bisa jadi ancaman.
"It doesn't take much imagination to understand how a foreign adversary with access to this information could pose a serious risk to both our national security and the privacy of US citizens," kata Commerce Secretary Gina Raimondo waktu itu. Pretty valid sih argumennya, tapi dampaknya ke dealer kayak Haiken jadi super nggak enak.
Kok Volvo Dapat Izin, Polestar Nggak?
Ini yang bikin frustrate banget. Volvo, yang juga mayoritas dimiliki Geely (pendiri yang sama kayak Polestar), justru dapat authorization dari Commerce Department di Maret 2025. Volvo bilang mereka punya "constructive discussions" sama departemen soal governance, technology and data security.
Meanwhile Polestar? Denied. Cuma disuruh existing stock Polestar 3 dan 4 yang masih ada di dealer boleh dijual, tapi untuk model year 2027? Game over.
Haiken sebut dia dan 31 dealer Polestar lainnya di AS udah invest "many millions" buat jualan mobil ini. "It's so unfortunate. It's hard for my customers who have been reaching out; it's hard for my staff," katanya.
Impact buat Customer dan Service
Polestar bilang jaringan service mereka tetap akan beroperasi buat nanganin customer yang udah punya mobil. Berbeda sama Fisker yang bangkrut di 2024 dan strand owner tanpa service, Polestar masih exists di negara lain jadi legally obligated buat support kendaraannya.
Haiken sendiri bilang service center standalone-nya tetep bakal buka. "We have the volume to justify it. We have to be around to perform that work," katanya. Though nggak semua dealer mungkin semujar itu.
Di sisi lain, Polestar bilang 94% dari sales Q1 2026 mereka ada di luar US—fram说这 sebagai strategi focus ke Eropa. Tapi Haiken ngerasa statistic itu misleading soalnya Polestar 4 Coupe baru available di US Desember 2025, padahal di Eropa udah launching Januari 2024.
Geek Opinion
Nggak bisa bohong, ini case yang complicated banget. Di satu sisi, national security concerns soal Chinese-connected tech itu valid—lo nggak mao spyware Cin di mobil yang terus-terusan ngumpulin data. But di sisi lain, dealer kayak Haiken yang udah invest jutaan dolar jadi korban collateral damage dari geopolitics.
Yang menarik adalah Volvo dapet izin tapi Polestar nggak. Artinya pemerintah AS nggak blanket-ban semua brand dengan hubungan China, tapi ada proses negotiation yang bisa dilakukan. Apakah Polestar dropped the ball kayak kata Haiken? Seems like it. Tapi apakah seharusnya ada grace period atau bantuan buat dealer yang udah investasi? Probably.
Intinya, ini jadi pengingat bahwa di era EV dan connected vehicles, geopolitics itu nggak bisa dipisahin dari bisnis. Lo nggak cuma jual mobil—lo jual mobil yang constantemente ngumpulin data dan terhubung ke cloud. Dan itu bikin semuanya jadi political banget.
We have the best intentions, but the execution? Needs work.



