Lo pasti pernah denger istilah "Greatest Rivalry" dalam rugby — ruvian yang lagi rame dibahas ini merujuk ke pertemuan antara Springboks (Afrika Selatan) dan All Blacks (Selandia Baru). Dua tim legendaris yang udah saling chase selama lebih dari seabad, dan apparently... salah satu dari mereka lagi turun drastis.
Yang bikin gue speechless
Di match tanggal 13 Agustus 2026, All Blacks berhasil menang 54-0 lawan Sharks di Kings Park Stadium, Durban. Secara teknis, mereka finally main kayak yang dijanjiin marketing — 8 tries, 40 poin di second half, nawarin "vintage class" sesuai headline Daily Maverick. Tapi ada masalah besar yang bikin momen ini awkward banget: hanya 14.759 orang yang nonton di stadium berkapasitas 52.000 kursi. Yep, literally 70% lebih kursi kosong.
Bukan cuma soal penonton yang sparse. All Blacks yang dulu selalu hadir dengan aura menacing — datang ke Afrika Selatan itu rasanya kayak ancaman nyata — sekarang kok... different vibe ya? Dan yang lebih penting: South Africa nggak reverential lagi. Mereka nonton dengan respek, tapi bukan tuh reverence seperti generasi sebelumnya.
Kenapa Springboks sekarang OP banget?
Di sinilah Rassie Erasmus jadi protagonist cerita ini. Sejak dia jadi head coach pada 2018, Springboks udah berubah total. Erasusnya nggak pernah satisfied — setiap kali box di checklist udah ditick, dia langsung bikin checklist baru:
- Buat Springboks kompetitif lagi → Done
- Kalahin All Blacks di markas mereka → Done
- Menang Rugby Championship → Done
- Menang World Cup → Done
- Kalahin British & Irish Lions → Done
- Pertahankan World Cup → Done
Dan sekarang? Erasmus lagi ngejar proving bahwa South Africa bukan cuma tim yang peak di World Cup. Mereka bisa dominate sepanjang tahun. Buktinya? Menang Rugby Championship 2024 sambil tetap jaga identitas rugby mereka yang brutal.
Tim ini dalem banget, Bro. Dua Test-class front rows artinya Erasmus bisa rotasi hampir seluruh pack tanpa kehilangan tekanan scrum. Damian Willemse bisa shift antara full-back dan first receiver. Sacha Feinberg-Mngomezulu mengancam garis pertahanan. Cheslin Kolbe kerja keras mencari ruang. Mereka bisa potong tim lawan seceralicious atau bludgeon mereka — tergantung mood.
So, kapan All Blacks bisa counter?
All Blacks yang sekarang masih punya enterprise, tapi Springboks udah menang 4 dari 5 pertemuan terakhir — termasuk World Cup Final 2023 dan menang 43-10 di Wellington tahun lalu. Generasi yang dulu punya win-rate 68.2% di Afrika Selatan sekarang lagi berusaha recover.
Yang menarik: South Africa harusnya mau All Blacks nemu another gear. Karena sweep aside faded force itu证明 less. Series ini perlu contest yang worthy of its name. Erasmus udah overtake mereka — sekarang satu box tersisa: menunjukkan supremasi berkelanjutan yang bikin tim ini claims sebagai greatest of all time.
Kalau next four Tests bisa nge-tick box terakhir itu, ya kita bicara dynasty baru. Tapi sementara ini... aura All Blacks? fading. 🏉



