Jadi gini gaes, bulan Agustus kemarin ada event keren di Copenhagen yang namanya TechBBQ — annual conference buat para investor, founder, dan operator tech dari seluruh Eropa. Dan lo tau gak? Topik yang paling rame di sana bukan soal "AI ini keren banget" atau "AI itu bakal gantiin kerjaan lo," tapi lebih ke pertanyaan fundamental: siapa sih yang beneran ngontrol teknologi AI?
Hook: Ketika AI Model Tiba-tiba Lenyap
Semuanya mulai serius setelah insiden Mythos dan Fable — dua AI model dari Anthropic — yang tiba-tiba gak bisa diakses oleh user di luar Amerika Serikat earlier this year. Nah, hal ini bikin banyak perusahaan di Eropa merinding. Bayangin lo lagi ngembangin software, trus model AI yang lo andain tiba-tiba unavailable kayak lagu yang di-hapus dari Spotify.
"Incident itu seriously nge-disrupt tim software kami," kata salah satu startup exec yang hadir di event. "Tapi ada juga yang mild aja responsnya." Dia ngakuin kalau reliance ke dua geopolitical power (baca: US dan China) buat AI emang bisa jadi headache suatu hari nanti, tapi untuk sekarang? "Everything is still pretty much OK," katanya santai.
AI Sovereignty: More Than Just a Buzzword
Nah, ini yang seru. Ellen de Brever — angel investor dan head of partnerships di Novo Nordisk Foundation Cellerator — bilang kalau tema TechBBQ tahun ini "Emerging from Agency" kerasa banget relevannya setelah incident Mythos & Fable.
"Pembicaraan shifted dari apa yang AI bisa lakukan jadi apa yang kita willing to let it do," jelas Ellen. Dia nge-highlight satu perspective yang menurut gue pretty deep:
"The age of AI agents isn't really a story about machines gaining agency. It's a story about humans deciding what to let go."
Nah, ini yang bikin gue mikir. Bukan soal AI-nya yang semakin cerdas, tapi soal human judgment dan siapa yang masih duduk di driver seat.
Privacy vs AI: Signal President Buka Suara
Salah satu sesi yang paling memorable? Panel sama Meredith Whittaker, President of Signal. Dia ngomong blak-blakan soal privacy dan AI yang能不能 coexist.
Whittaker tegas menolak ide AI assistants dan agents yang integrated ke operating systems — kayak yang lagi dilakukan ChatGPT dengan iMessage. Katanya, era AI ini lagi "membuat data collection apparatus" yang massive, dan AI labs pake clever marketing buat bikin orang lupa sama "collateral consequences" dari ngumpulin sebanyak itu data.
"There is still a huge market need for privacy," tegas Whittaker. "And particularly with the sovereignty concerns, we will have customers here." Gaspol banget statement-nya!
Emad Mostaque: AI = Kekuasaan
另一边, Emad Mostaque — co-founder Stability AI dan Intelligent Internet — bahas soal agentic workforce dan apa artinya buat personal sovereignty. Statement-nya pretty bold:
"Sovereignty is the ability to resist power being exerted over you."
Dia ngomongin konsentrasi power yang sekarang ada di tangan segelintir AI labs, dan bilang:
"Inevitable, every country will be run by AI, and the person that controls the AI controls the country."
Ini statement yang quite alarming sih, tapi emang realistis banget dengan kondisi sekarang.
Geek Opinion: Eropa Bangkit?
Mia Negru dari nonprofit Life With Artificials ngirim pesan yang pretty eye-opening:
"If intelligent agents perform cognitive work and robots increasingly perform physical work, we may be approaching something much bigger than another technological revolution. We may have to rethink ownership, work, democracy, economic participation, and eventually even who gets to participate in society."
Ini bukan lagi soal tech revolution biasa, tapi soal civilizational shift. Dan pertanyaan "siapa ngontrol AI" jadi jauh lebih critical dari yang kita think.
Tapi tau gak? Di sela-sela panel yang serious, orang-orang juga letting loose — ada happy hours, rooftop barbecues (hosted by Lovable, Nvidia, OpenAI, AWS Startups, HSBC), cocktail bars, bahkan dinner di island dengan fire dancers. Semuanya tetep remind kita kalau:
"In a room full of conversations about machines, the most memorable moments still come from the simplest thing. Human connection, face-to-face, building relationships, sharing ideas, and reminding each other of what technology can never quite replace."
TechBBQ remind kita: Di tengah semua hype soal AI agents dan sovereignty, yang paling valuable tetep koneksi manusia. Respect buat tech, tapi jangan lupa sama yang bikin tech itu sendiri — manusia.
What do you think, gaes? Apakah Eropa bakal berhasil gain more control atas AI infrastructure mereka, atau masih akan bergantung ke US dan China? Drop your thoughts below! 👇



