Guys, tau nggak? Para petenis dunia sekarang tuh udah mulai main bareng AI, dan jujur hasilnya bikin geleng-geleng kepala.
Emma Raducanu misalnya, dia tuh revealed kalau dirinya literally use ChatGPT buat apapun. Dia bahkan minta ChatGPT bikinin versi "Chat Wrapped" ala Spotify Wrapped—yang hasilnya? "It was very clear, very concise. No nonsense," kata Raducanu sambil ketawa. "Aku kayak: 'Oh, ini cukup akurat sih.'" Nah lo, personality analysis dari AI beneran on point.
Tapi yang lebih wild tuh, beberapa pemain udah mulai pakai AI buat scout lawan. Jessica Pegula日前 denger ada seseorang di tour yang pake ChatGPT buat analisis gaya bermain lawan selanjutnya. Bianca Andreescu juga ngaku pernah pake ChatGPT sebelum bertanding lawan yang belum pernah dia hadapi di sirkuit ITF. "There weren't many videos on her," jelas Andreescu. "Jadi aku curious. Dan ternyata Chat bisa nyariin dari sumber lain. Dan kayaknya works sih."
Yang bikin funny, Coco Gauff suatu saat bosen trus iseng nanya ke AI soal strategi terbaik buat main lawan dirinya sendiri. Jawabannya? "It didn't say anything I didn't already know." Dia pun ngledek sambil bilang: "Newsflash: everybody plays me the same way – hit to my forehand and hope I double-fault." Ya ampir, nggak ada yang new sotto.
Tapi nggak semua pemain oke-oke aja sama AI. Daniil Medvedev misalnya, dia suka iseng-iseng pake ChatGPT sama tim buat cari tau cara ngalahin Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz. Tapi hasilnya? "[AI] says something and I'm like: 'OK great, how do I do it?' Like: 'OK, I see what you mean and it's not bad things, but how do I go on court and do it?'" Jadi ya gitu deh, AI bisa kasih insight tapi nggak bisa ngajarin execute di lapangan.
Frances Tiafoe malah firmly menolak AI. "I don't have ChatGPT. I haven't used much AI-generated stuff. I'm going against the grain. I'm still Google searching," cetusnya. Dia bahkan ngeluh soal info overload yang bikin pusing. Meanwhile, Naomi Osaka dan Gauff concerned soal environmental impact AI yang butuh banyak air buat cool down server. "I just heard it takes up a lot of water, and I like the water we have on Earth," kata Osaka. Ok ini valid banget sih.
Ada juga yang fun-use cases-nya. Iga Swiatek ngaku AI帮她 nulis email. Elina Svitolina pernah tanya ke ChatGPT warna apa yang paling cocok sama dia—jawabannya? "Pastel colours. Cold summer." Trus dia ketawa ngakak sambil nge-gas: "I just had to try!"
Intinya sih, dunia tennis lagi dalam fase transisi yang uncertain soal AI. Ada yang embrace penuh, ada yang skeptis, ada yang cuma pake buat hal random. Tapi satu hal pasti—uncertainty is the name of the game di locker room. Mau nggak mau, generasi ini harus figure out sendiri gimana cara integrate AI ke kehidupan mereka tanpa kehilangan essence of the sport. Klasik kan? Balance is key~



