Guys, lo tau nggak sih? Tour de France Femmes 2026 baru aja conclude dan boy, what a ride that was! Demi Vollering emang berhasil nangkep overall victory di Nice hari Minggu lalu — ini gelar keduanya secara berturut-turut, dan honest opinion gue: dia gaspol banget di climb dan descent. Tapi yang bikin headline-worthy bukan cuma kemenangan dia, tapi juga drama yang terjadi sepanjang race.
The Climax of The Drama
Jadi gini kronologinya: di stage 8, Vollering's teammate Célia Gery — yang baru 20 tahun, still fresh di pro cycling — jadi korban kritik tajam dari Kasia Niewiadoma. Kasia publicly shade Gery dan itu bikin si muda kena hate messages di internet. Vollering sebagai senior teammate langsung gas defense mode, ngomong kalo kita harus protect young riders dari "stupid actions" kayak gitu. Mereka bahkan ngobrol langsung di atas bike during the race dan alhasil, drama closed dengan peaceful resolution. Ciao beef!
Tapi sabar, masih ada plot twist. Stage 9 yang merupakan final stage, Niewiadoma yang udah emosi dari awal justru harus diakui performanya oke banget — dia finish di top three untuk kali ke-lima kalinya di Tour de France Femmes. Even lebih gila: dia juga dapet prix de la combativité alias Most Attacking Rider di stage terakhir. Talk about redemption arc!
Why Women's Cycling Hits Different
Nah ini yang paling worth untuk dibahas. Kalau lo follow Tour de France masculino, lo tau kan kalo Tadej Pogacar basically dominar dari stage 6 ke atas — race-nya udah selesai bahkan sebelum masuk Paris. Tapi di versi perempuan? Uncertainty level-nya on another level. According to Tour de France Femmes director Marion Rousse:
"Women's cycling at the moment creates more suspense than you see in men's cycling, because Pogacar is so dominant."
POV lo nonton race dan nggak bisa tebak siapa winner-nya sampai climbing terakhir. That, my friends, is peak entertainment. Belum lagi ada fresh factor — para riders masih emotional pas naik podium, belum ada "been there done that" vibes yang kadang bikin men's race agak flat.
Technical Deep Dive
Let's talk numbers. Vollering nge-win tiga stage dari total sembilan stage di Tour de France Femmes 2026. Dia juga udah collect beberapa big titles tahun ini:
- Giro d'Italia Women
- Liège-Bastogne-Liège
- Tour of Flanders
- Flèche Wallonne
Dude. That's basically a legendary season. Performa dia arguably lebih impressive dibanding Tadej Pogacar sendiri yang nge-win Tour de France masculina untuk kali ke-lima.
Sayangnya ada moment yang bikin hati hancur: Marlen Reusser, yang mulai final stage di posisi tiga, crash parah di descent Col d'Èze. She remounted in tears dan finish the stage despite all hopes of podium udah hilang. Respect level: maximum.
The Future Look Bright
Next year's Tour de France Femmes bakal start dari Leeds (30 Juli) dan bakal finish di Manchester, Sheffield, dan London. Grand Départ di UK ini diprediksi bakal boost popularity women's cycling di wilayah tersebut significant.
Dan yang sweet: Pogacar sendiri jadi advocate aktif untuk women's peloton. Dia muncul di pinggir jalan pas stage ke Mont Ventoux, cheering untuk partner-nya Urska Zigart. Champion yang support champion lainnya? That's the energy we love to see.
Geek Opinion
Seriously, kalau lo ngomongin motorsport atau endurance racing, lo WAJIB masukin Tour de France Femmes ke radar lo. Ini bukan "women's version" yang inferior — ini race dengan different flavor yang justru bikin suspense dan unpredictability-nya higher. No cap, ini GP yang paling underrated di dunia cycling.
Vollering udah prove bahwa dia goat material, dan women's cycling scene emang Lagi on fire. Jadi gas bookmark page ini dan stay tuned untuk 2027!
Source: The Guardian Sport



