Oke, gue mau lo tau sesuatu. Gue pernah nge-lap Eagles Canyon 12 kali berturut-turut pakai Supra biasa, dan itu adalah salah satu pengalaman paling epic yang pernah gue rasain di balik kemudi. Panas Texas sampe bikin sunburn, helm nimpuk muka, tapi godaan mesin B58 3.0L straight-six itu kuat banget buat bikin lo lupa semua sensasi nggak nyaman.
Nah, sekarang Toyota kasih kita Supra Final Edition — yes, versi perpisahan buat MkV yang produksinya udah selesai musim semi ini. Tapi jujur aja, setelah nyetir unit ini, perasaannya campur aduk. Kayak mau bilang goodbye tapi nggak yakin harus ngomong apa.
Apa Beda Final Edition dari Supra Biasa?
Jadi gini, Toyota kasih treatment beda tergantung kontinen lo. Eropa dan Jepang dapet versi gahar — B58 yang udah di-tune jadi 429 hp dan 420 lb-ft torque. Cuma 300 unit, plus carbon fiber front spoiler, rear wing, sama exhaust Akrapovic titanium. Cakep banget di kertas.
Tapi kalau lo di AS kayak gue, prepare for disappointment. Same output 382 hp dan 368 lb-ft kayak model biasa. Cuma dapet upgrade chassis — camber angle depan-belakang direvisi, stabilizer depan diperkuat, adaptive dampers di-tune buat cornering grip lebih oke. Ada juga software tweak buat differential biar understeer berkurang.
Honestly, gue rasa understeer bukan masalah besar di Supra biasa sih. Mungkin emang preference masing-masing driver ya.
Driving Experience: Masih Keren, Tapi...
Hal yang bikin gue masih jatuh cinta sama Supra Final Edition — driving experience-nya luar biasa cohesive. Lo nggak harus mendorong mobil ini ke limit buat dapat fun. Mesin B58-nya super tractable, bisa cruising di gigi tiga seharian dan dia bakal narik bersih dari 15 mph sampai 80 mph. Peak torque udah datang di 1.800 rpm dan nahan sampai 5.000 rpm. Zero turbo lag — sesuatu yang makin guehargai sekarang karena umumnya nyetir EV.
Exhaust roar-nya bikin lo nggak ngerasa ditindas sama SUV-SUV di jalan. Ada satisfying pops and bangs pas lift-off, though some of that is synthetically pumped through speakers — jadi jangan harap 100% authentic.
Steering-nya communicative dan enak banget, six-speed intelligent manual (iMT) punya throw yang pendek dan presisi. Ada fitur auto rev-matching yang bantu lo shift sempurna tanpa harus injek-rem manual. Sport mode bikin throttle lebih responsif dan exhaust makin ngamuk, tapi ride quality ya stiff — jolts easily filter into cabin.
Mesinnya sih happy di low-to-mid range, di atas 5.000 rpm rasanya mulai kehabisan napas. Tapi buat daily driving di jalan biasa? Perfectly adequate.
Red Flags yang Bikin Gue Mengelus Dada
Nggak sempurna, bro. Ada beberapa hal yang bikin gue cringe:
- Visibility sucks. Blind spot di passenger side rear three-quarter itu nyata. Kalau lo berhenti di angled left-turn lane, lo nggak bakal bisa lihat traffic dari kanan. Thick B-pillar sama sloping roofline conspiracy against drivers.
- Gauge cluster nggak ada driving range. Di mobil dengan engine yang thirsty, ini miss yang gede.
- Infotainment masih wired Apple CarPlay only. No Android Auto. Di 2026. With a $73,300 sticker. No obat.
- Wireless charging pad sized for iPhone 8 era. Pro Max atau Pixel XL lo nggak bakalan muat.
Yang oke? JBL 500W 12-speaker system — crisp dan bikin road trip jadi enjoyable.
Verdict: Bittersweet Goodbye
Gue seneng Supra-nya mau discontinued. Karena penjualan tahun 2025 cuma 2.953 unit di AS — walau naik 13% year-over-year, jauh dari peak 2021 yang 6.830 unit. Dunia performance car lagi moving ke hybrid, dan Toyota harus bikin ruang buat generasi berikutnya.
Tapi tetap aja, MkV Supra udah jadi bagian integral dari enthusiast community selama 7 tahun. Mesinnya cepat, exciting, dan dia punya spot di pop culture lewat Fast and Furious. Siluetnya bakalan tetap instantly recognizable.
Ada kabar kalau Toyota lagi develop next-gen Supra dengan hybrid powertrain in-house. Kalau beneran? Could be smarter, faster, lebih efficient. Tapi ya, nothing confirmed.
Final Edition ini bikin gue mixed feelings. Dia masih wonderful driver's car — tapi nggak cukup special buat jadi proper farewell. Mungkin Toyota lagi nabung energi buat comeback yang lebih epic?



