Lo tau nggak sih, di balik layar industri AI, lagi terjadi pertempuran seru yang jarang banget dibicarain di media? Yap, Vercel—platform cloud yang bikin developer bisa deploy agent tanpa ribet manage server—sedang jadi salah satu perusahaan paling krusial di ranah AI software. Baru-baru ini, CEO mereka Guillermo Rauch kasih insight bombastis di acara ShipNYC, dan jujur? IsinyaOP banget.
Angka-Aangka yang Bikin Melongo
Jadi gini, Vercel itu bukan main-main. Mereka nge-handle 6 juta deploymentsper hari, dan guess what? Setengahnya dipicu sama coding agent.Selain itu, lebih dari 1 triliun tokens flow lewat AI gateway mereka setiap harinya. ANGKA 1 TRILIUN. Kita ngomongin scale yang gila-gilaan di sini. Dan menurut Rauch, biggest lesson yang dia dapet dari pengalaman internal adalah: ada dua "killer apps" utama dari agent.
Killer app pertama? Coding agent, sudah pasti. Ini yang lagi nge-drive sebagian besar token utilization di dunia.
Killer app kedua? Agent internal yang bantu jalankan perusahaan. Nah ini yang menurut gue lebih menarik lagi. Sales rep yang tadinya stuck karena nggak bisa akses data dengan cepat, sekarang bisa langsung nanya ke agent: "Beri aku lima akun yang paling banyak nambah seat dalam dua minggu terakhir." Dulu harus nunggu project Q1 buat sales dashboard selesai. Sekarang? Langsung dapet insight.
Eve sama Sandbox: Combo Maut Buat Keamanan Data
Nah ini bagian yang menurut gue paling krusial. Vercel bikin framework bernama Eve, di mana lo bisa layout instruksi dan skills agent pakai natural language. Terus ada Vercel Sandbox, di mana agent itu kayak dikasih "kandang"—bebas berekspresi dengan kecerdasannya, tapi tetap ada policy soal data apa yang bisa diakses dan data apa yang boleh keluar.
Rauch cerita tentang risiko yang dia植. Bayangin lo punya codebase C++ aerospace engineering yang udah decades of wealth—lalu ada developer yang install tools yang salah, dan boom, semua code itu ke-training ke cloud. Red flag besar banget kan?
Sandbox ini solusi buat avoid that. Data control jadi priority nomor satu. Agent boleh cerdas, tapi tetap dalam koridor yang lo tentuin.
Battle Royale Lawan AI Labs
Ini yang paling juicy. Dulu kan banyak perusahaan yang "married" sama satu lab partner—bikin semuanya di OpenAI atau Anthropic. Sekarang? Mindset-nya udah beda.
"Model, harness, data platform, sandbox, gateway—every piece is plug and play."
Sekarang perusahaan-perusahaan udah paham cara kerja AI ecosystem. Mereka bisa pakai OpenAI, Anthropic, atau Gemini. Dan yang menarik, Gemini lagi naik signifikan meskipun nggak seheboh di berita. Kenapa? Karena mereka optimize for production, dan Gemini punya price/performance characteristics yang awesome. Plus, open models kayak DeepSeek dan GLM-5.2 juga lagi takeoff.
Dan jangan lupa, Vercel sekarang juga dalam direct competition sama OpenAI yang baru aja release tools buat publish langsung ke web tanpa keluar dari OpenAI enclave. Rauch sih santai aja—menurutnya ini justru opening bagus, karena orang bakal mulai mikirin ChatGPT sebagai tool bikin website.
Geopolitik AI: Model dan Agent Mau Dipisah?
Ini观点 paling mind-blowing dari Rauch:
"I really think at this point we're deciding on whether the model and the agent are going to be coupled."
Artinya, kita lagi di titik keputusan besar: mau terus ngandalin satu tempat buat semua intelligence, atau mau modular—ambil module dari satu provider, build di atasnya kayak software engineering yang udah ada selama ini.
Rauch yakin Vercel bakal jadi AWS buat generasi ini—platform infrastructure yang support open protocols. Fight-nya jelas: inginin world di mana model dan agent adalah entitas terpisah, di mana lo bisa switch-hitch, compare, dan optimize semau lo.
Jadi buat lo yang di tech industry, ini值得关注 banget. Tren ke depan bukan lagi soal siapa yang punya model terbaik, tapi siapa yang paling jago orchestrate semua pieces jadi satu sistem yang work seamlessly. Dan Vercel? Mereka gaspol buat jadi king di ranah itu.



