Lo tau gak, ada tempat di China yang dulunya cuma kenalannya rumput dan dome api purba, sekarang malah jadi rebutan para raksasa AI dunia?
Serius, gak lebay. Zeyi Yang dari Wired baru aja publish story yang bikin gue geming. Katanya, Ulanqab — kota di Inner Mongolia dengan populasi sekitar 1,5 juta jiwa — udah jadi salah satu compute cluster tercepat di Asia. Bahkan, Goldman Sachs ngeluarin research note kalau perusahaan China udah commitment mau bangun proyek dengan total kapasitas 12,5 gigawatt di kota ini. Twelve. Point. Five. GW.
Untuk lo yang belum ngehapus, itu lebih gede dari Stargate Project OpenAI yang ‘cuma’ 10 GW.
Kok Bisa di Sana?
Nah, ini yang OP banget. Ada beberapa faktor yang bikin Ulanqab jadi pilihan utama:
- Energi murah parah — Listrik di Inner Mongolia itu salah satu yang paling murah di China, didukung pertumbuhan energi terbarukan DAN pasokan batu bara yang melimpah.
- Cuaca alamiah buat cooling — Kota ini ada di dataran tinggi dengan musim dingin yang panjang dan dingin. Jadi data center gak perlu kerja keras banget buat cool down server mereka.
- Deket Beijing — Cuma 2 jam naik kereta dari Beijing, jadi latency buat transfer data ke wilayah ramai China bagian timur masih oke.
- Dua kabel fiber optik dedicated yang dibangun 2017 dan 2019, bikin latency turun jadi kurang dari 5 milidetik. Kecepetan ini udah cukup buat real-time AI inference!
Data center di sini sebenernya udah ada sejak lama. Huawei mulai bangun yang pertama di Ulanqab tahun 2016, Apple ikutan 3 tahun kemudian. Tahun 2021, pemerintah China designates wilayah ini jadi salah satu hub utama program "Eastern Data, Western Compute" — basically strategi nasional buat mindahin infrastruktur digital ke pedalaman.
Siapa yang Lagi Ngerame?
Ini yang makin bikin menarik. Buat pertama kalinya, perusahaan AI China sekarang investasi besar-besaran buat bangun infrastruktur mereka sendiri, bukan lagi nyewa compute dari cloud provider.
DeepSeek lagi membangun data center AI raksasa di Ulanqab. ByteDance, Alibaba, dan Xiaohongshu juga pada melirik kota ini. Bayangin tuh — perusahaan yang udah punya cloud infrastructure sendiri tetep milih Ulanqab buat ekspansi. Itu menunjukkan betapa attract-nya lokasi ini.
Andrew Stokols, professor di Singapore Management University yang khusus riset soal compute infrastructure China, bilang:
"Dengan naiknya AI tahun 2022, adarealisasi kalau remote data center itu sebenernya cocok banget buat model training. Training run itu bisa nyebut berbulan-bulan dan gak butuh real-time tinkering, jadi latency bukan masalah besar."
Wait, Ada Red Flag
Oke, jadi semuanya keliatan sempurna? belum. Ada satu masalah besar yang bikin眉头皱了:
Ulanqab itu keringnya kayak Denver. Hujan cuma sekitar 14 inci per tahun, dan pemerintah lokal udah kesulitan memenuhi kebutuhan air warganya — sebelum proyek data center ini bahkan jalan. Bulan lalu, perusahaan air setempat harus matikan beberapa waterworks selama 7 jam tiap malam buat ngurangin peak demand.
Data center memang butuh air lebih sedikit di musim dingin (cuaca dingin Ulanqab cuma butuh cooling tambahan 2 bulan per tahun), tapi infrastruktur baru tetep bakal jadi tantangan lingkungan yang signifikan buat region ini.
Geek Opinion
Ini yang gue pikirin sih: China emang lagi gaspol banget buat catch up sama US dalam hal AI infrastructure. Program "Eastern Data, Western Compute" itu strategi yang smart — manfaatin wilayah yang gak rame buat hal yang butuh space besar dan energi banyak.
Tapi ada nuance yang sering orang skip:
- 37% listrik di Ulanqab masih dari batu bara
- Data center butuh daya 24/7, jadi operator tradisionalnya suka pilih fossil fuel karena reliabilitasnya
- Inner Mongolia dijuluki "West Virginia of China" — negara batu bara sejati
Ini artinya, di balik narrative "green AI" yang keren, masih ada realita kalau infrastruktur ini belum sepenuhnya clean. Meski begitu, transisi ke wind dan solar lagi jalan — tahun lalu Envision, salah satu manufaktur turbin angin terbesar China, announce bakal bangun data center AI 2 GW di Ulanqab yang langsung terhubung ke supply daya bersih mereka sendiri.
Jadi? Kita liat aja gimana China navigate trade-off antara ambisi AI dan sustainability. Yang jelas, Ulanqab udah gak bisa di-sleep lagi sebagai "boonies" — kota ini sekarang ada di radar semua orang.
Lo think gimana sama gebrakan China ini? Timin atau skip?
Sumber: WIRED



