Lo pernah nggak sih, scrolling TikTok atau YouTube jam 2 pagi, terus tiba-tiba nemu konten yang bikin lo merinding? Nah, "We're All Going to the World's Fair" [/entertainment/983177/jane-schoenbrun-were-all-going-to-the-worlds-fair-horror-movie-review] ini kayak versi feature film-nya — kayak nonton seseorang melakukan challenge yang ambigu statusnya antara bercanda dan genuinely creepy.
Film debut Jane Schoenbrun ini released pertama kali di Sundance 2021, dan langsung bikin gue jatuh cinta. Sekarang, seiring dengan release "Teenage Sex and Death at Camp Miasma" [/entertainment/975850/teenage-sex-and-death-at-camp-miasma-production-design], film terbaru mereka di bioskop, gue mau revisit kenapa "World's Fair" ini still relevant banget.
Gimana sih filmnya work?
Ceritafollow Casey, cewek remaja yang melakukan "World's Fair Challenge" — basically ARG creepypasta meets ice bucket challenge. Ada mantra creepy, ada bloodletting, ada video misterius. Intinya sih speedrun horror movie tropes. Tapi yang bikin unsettling adalah semua delivered sama cewek muda ini sendirian di kamarnya, langsung ngeliat ke webcam sepanjang waktu. Gue physically recoiled pas dia nancap-nancapin jarum ke jari tangannya buat narik darah. It’s genuinely uncomfortable to watch.
Konsepnya: orang yang ikut challenge supposed to "berubah" dalam cara yang nebulous. Dijelaskan kayak "game" di mana participants harus report symptoms — bisa jadi berubah jadi plastic, atau organ dalam mereka jadi Tetris pieces. Klasik sih body horror tropes, tapi delivery-nya beda.
Ini bukan coming-of-age biasa
Yang gue suka dari film ini: unlike other coming-of-age films, "World's Fair" bukan tentang sexual awakening dan sama sekali nggak sexualize Casey. Instead, ini tentang search for belonging di dunia yang extremely online.
Casey nggak pernah ditunjukin ngobrol sama anak-anak seumurnya. Ayahnya nggak pernah keliatan, cuma kedengaran teriakan doang. Dia desperately attempts to connect with others lewat video-video yang dia upload, dokumentasi "perubahan" setelah ikut challenge.
Satu-satunya karakter lain yang dapet screen time yang signifikan adalah JLB, cowok paruh baya yang claim Casey in danger. Hubungan mereka nambahin layer of unease yang bikin lo nggak nyaman — whole thing punya voyeuristic quality. Nunca explicitly stated, tapi certain seems like JLB attempted to groom Casey yang vulnerable ini.
Why this film hits different
Movie ini stews in its uncomfortable ambiguity, dan itu bagian dari apa yang bikin bagus. Mungkin nggak se-surreal atau secampy "I Saw the TV Glow" [/24141747/i-saw-the-tv-glow-review-a24] atau "Camp Miasma", tapi ini rare indie cinema original yang pakai body horror tropes in new and interesting ways.
Gue rasa yang bikin film ini special adalah gimana dia menggambarkan loneliness di era internet. Casey nggak punya friends offline, jadi dia cari connection lewat komunitas online yang basically horror challenge ini. That’s so relatable untuk Gen-Z yang grew up with internet as primary social outlet, tapi juga pretty unsettling karena gimana komunitas itu bisa exploited.
Where to watch
"We're All Going to the World's Fair" bisa lo stream di:
Jadi kalau lo mau nonton sesuatu yang different dari horror mainstream, kalau lo interested sama film yang bikin lo thinking even after credits roll, this one’s worth your time. Just beware — lo mungkin bakal zweback ke webcam lo dengan differently setelah nonton ini.



