Lo pernah nggak sih frustrasi pas makan blackberry, terus bijinya nyangkut di gigi? Atau capek banget waktu metik ceri dari pohon yang ketinggian? Nah, sebuah startup dari North Carolina bernama Pairwise lagi ngembangin solusi buat problem sehari-hari kayak gitu - dan mereka pakai teknologi CRISPR yang cukup OP banget.
Gimana CRISPR Bisa Bikin Blackberry Tanpa Biji?
Pairwise nggak pakai cara konvensional yang butuh waktu puluhan tahun buat cross-breeding. Mereka langsung otak-atik genetik tanaman dengan teknologi CRISPR (Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats). Hasilnya? Blackberry tanpa biji, tanpa duri, dan hasil panen lebih banyak - semua dalam hitungan tahunan, bukan puluhan tahun.
"Kita nggak perlu nge-cross tanaman blackberry tanpa biji sama variety terbaik dan berharap turunannya enak," kata Tom Adams, CEO Pairwise. "Kita langsung edit variety terbaik biar jadi tanpa biji."
Yang bikin lebih menarik, teknologi CRISPR ini 95% lebih cepat daripada breeding konvensional. Plus, AI sekarang juga bantu para ilmuwan pinpoint di mana dan gimana cara edit gen dengan lebih presisi. Bayangin aja: satu tanaman punya 40.000 gen berbeda, dan CRISPR bisa targetin gen spesifik tanpa ngaco-in gen lain.
Ceri yang Tumbuh di Semak? Seriously?
Salah satu project paling keren dari Pairwise adalah cherry bush - ceri yang tumbuh di semak rendah, bukan pohon tinggi. Konsepnya simpel: lebih gampang dipanen pakai mesin, lebih gampang dispray pestisida, dan yang paling penting - butuh lahan lebih sedikit dibanding pohon ceri konvensional.
Adams yang dulu oversee Monsanto's biotechnology work bilang, "Satu perubahan itu bisa fundamentally transform cara makanan ditanam. Terus kita bisa tambahin perubahan lain biar makin baik. Dan hal yang sama bisa kita lakuin ke makanan lain."
Strategi Pairwise ini beda sama Monsanto yang fokus ke farmer-centric crops kayak animal feed. Pairwise sengaja targeting buah dan sayuran yang konsumen beli langsung - dengan edit yang bikin makanan lebih enak buat dimakan, bukan cuma lebih profitable buat grow.
Tantangan: GMO Deja Vu?
Meskipun CRISPR belum menghadapi resistensi selestial dari publik (beda sama GMO), nggak ada guarantee kalau sejarah nggak bakal ngulang diri. Van Eenennaam, geneticist dari UC Davis yang bikin cattle embryos dengan edit gen buat calves lebih efisien, bilang:
"Orang lebih suka kelaparan daripada teknologi yang bikin mereka takut. Dan kalau nggak ada path ke market, nggak ada yang bakal invest di teknologi ini."
Regulasi juga masih jadi вопрос. EU yang biasanya anti-GMO baru aja move buat treat gene-edited crops kayak regular crops. Tapi untuk CRISPR livestock, FDA masih regulasi ketat - sampai-sampai scientist harus incinerate hewan yang udah di-edit setelah diteliti.
Market challenge juga nyata: Pairwise udah dapat 50+ regulatory approvals di 9 negara buat 5 edited crops, tapi produk yang baru mereka jual... satu aja - blackberry variety di Colombia. Mustard green pertama mereka yang less bitter juga udah didiscontinue di early 2024.
Geek Opinion: Apakah Ini Future of Food yang Sebenarnya?
Potensinya mah gede banget sih. Dengan populasi dunia yang makin numpuk dan lahan pertanian yang makin sempit, teknologi kayak CRISPR bisa bantu petani hasilin lebih banyak makanan dengan lahan lebih sedikit, air lebih sedikit, dan bahan kimia lebih sedikit. Bayer aja bilang mereka expect dalam 10 tahun, setiap new crop variety bakal incorporate edited genes.
Tapi ya... investment di ag-tech udah turun 70% sejak peak di 2021. VCs lagi lebih excited sama AI daripada plant-based food startups. Kita bakal butuh lebih banyak funding dan consumer acceptance sebelum teknologi ini beneran mainstream.
Adams sih optimistic: "This is the crest of a wave that's coming. I wish it was already here."
Kita doain aja ya - siapa tau 5-10 tahun lagi lo bisa makan blackberry tanpa biji sambil ngopi, dan nggak perlu khawatir masa depan pangan kita. Fingers crossed! 🤞



