Lo mungkin nggak kenal nama Thibault Sottiaux, tapi kalau lo pernah ngalamin token limit reset di Codex OpenAI, itu probabilitasnya dia yang nge-handle. Nah, sekarang orang ini lagi ngurusin sesuatu yang jauh lebih gede: ChatGPT Work, platform AI agent buat para pekerja white collar yang bikin semua orang—bukan cuma developer—bisa nikmatin kekuatan AI tanpa harus jadi tech wizard.
ChatGPT Work: Bikin AI Agent Bisa Diakses Semua Orang
Sottiaux, yang sekarang Lead semua core products OpenAI (API, agent infrastructure, enterprise, ChatGPT, Codex—semua), ngakuin kalau misi utama ChatGPT Work itu simpel: bringing the power of coding agents to everyone. Jadi intinya, mereka ngambil teknologi yang awalnya cuma bisa dipake sama orang technical, terus packaging ulang jadi sesuatu yang safe, delightful, dan bisa dipake di mobile maupun web. Dan yang paling gila: ini udah termasuk di Plus plan yang cuma $20 per bulan. Beneran nggak nyangka, kan?
Ketika ditanya soal motivation ekonomi di balik ini, Sottiaux blak-blakan: "The more value and the more utility that we generate for users, the more they will be willing to also pay for some part of that utility." Intinya, kalau lo ngerasain value yang lo dapet itu jauh lebih gede dari $20, ya lo bakal willing buat bayar. Simple tapi powerful—dari situlah trust mereka dibangun.
Discovery sebagai Product Philosophy
Ini bagian yang paling menarik, bestie. Sottiaux ngungkapin bahwa mereka nggak nemuin product-market fit dengan cara tradisional. Mereka justru pakai pendekatan discovery: push frontier capabilities of models, terus liat apa yang bisa dilakukan, lalu lean into hal-hal itu dan bangun produk di sekitarnya. Jadi bukan ngejar discrete problems—lebih ke explore capabilities baru, terus figure out gimana bikin orang jatuh cinta sama fitur itu.
Contohnya, GPT 5.6 jadi step up besar-besaran buat general work: bisa process dokumen dalam jumlah gede, generate slides berkualitas, bikin reports yang oke, dan deep research—semua hal yang professional worker lakuin sehari-hari. Dari situ mereka lean into kemampuan itu, capture feedback, terus improve secara iterative. Metode learning from community dan real use ini yang bikin ChatGPT Work terus evolve.
"The World Seems to Be Ready"—20 Juta User dan counting
Ethan Mollick, professor Wharton yang riset soal AI tools, pernah ngomong kalau ChatGPT Work tries to be magic, sementara kompetitor kayak Claude Cowork lebih banyak A/B tests dan kasih pilihan ke user. Nah, Sottiaux jawab ini dengan pede banget: "We definitely see that the world seems to be ready." Buktinya? Mereka baru aja announce kalau ChatGPT Work udah menyentuh 20 juta users—angka yang nggak bisa diabaikan.
Philosophynya sih udah jelas: build extremely capable models, terus figure out the most simple and delightful way buat bring them into your life. Get out of the way, biarkan modelnya express itself. Mereka juga lagi gencar nge-push ChatGPT Voice yang pertumbuhan-nya insane—karena memang lebih natural kalau lo cuma ngomong aja, nggak perlu ngetik. "You don’t have to do the reverse, where you have to learn how to use this application," tegas Sottiaux.
Harga Turun 80%, tapi Value Naik Terus
Buat lo yang worried soal gap antara harga Plus plan sama usage—Sottiaux kasih reassurance menarik. Mereka udah announce major price cuts dengan Luna: 80% off, dan ini permanent price correction, bukan diskon temporer. Frontier capabilities yang dulu mahal banget akan terus jadi lebih murah seiring waktu. "Our goal is to, over time, include more utility in the same dollar amount," katanya. Jadi kalau lo upgrade enam bulan dari sekarang, lo bisa lakuin hal yang sama dengan spend yang lebih sedikit.
Tentu aja, security tetap jadi concern utama. Sottiaux menekankan pentingnya pick models yang safe and aligned, dan investasi besar OpenAI ada di safety stack. "Our models are world-class at these topics," klaimnya—meski kita tahu security concern soal AI access ke email dan iMessages masih jadi topik panas di komunitas.
Intinya, OpenAI lagi transisi dari AI yang lo ajak ngobrol, ke AI yang lo kasih task dan dia execute autonomously. Dan sepertinya, dunia emang udah ready—atau minimal, OpenAI percaya kita semua akan kejar ketinggalan.



