Kalo lo pikir scan muka di venue konser cuma buat lucu-lucuan, think again deh. Madison Square Garden (MSG) di New York lagi jadi sorotan setelah para politisi, musisi, dan aktivis privacy demonstasi bareng di depan venue legendaris itu, Jumat lalu. Mereka pada teriak "ban the scan!" dan maksa pemerintah kota buat ngeluarin regulasi ketat soal penggunaan facial recognition dan biometric surveillance.
MSG Punya Database Rahasia yang Mengerikan
Nah ini yang bikin chills. Menurut laporan WIRED, MSG punya sistem biometric yang bukan main-main. Para fans yang kritis terhadap James Dolan (CEO MSG) atau New York Knicks bisa aja masuk watch list dan wajahnya tersimpan di database MSG. Dalam satu kasus, security MSG bahkan ngelacak pergerakan seorang fan di games Knicks secara detail—mulai dari menit ke menit, ngomong sama siapa, makan dimana, terus duduk di mana. Gila kan? Belum lagi sekitar 400 lawyer yang lagi dalam sengketa hukum sama Dolan atau properti miliknya pada di-ban dari seluruh venue Dolan. Bahkan ada seorang ibu yang di-blokir dari Radio City Music Hall cuma gara-gara dia mau nganterin anaknya nonton show.
Apa sih Isi UU 'Ban the Scan' yang Lagi Digodok?
City Council member Shahana Hanif nganakungin proposal UU yang bakal ngelarang semua venue publik di NYC buat pakai teknologi biometric recognition, termasuk sistem facial recognition MSG. Jumat lalu, Hanif demo bareng musisi country dari Brooklyn, perwakilan dari NYCDSA Tech Action, dan anggota Fight for the Future—semua sama-sama satu suara: privacy orang gak boleh di-sacrifice buat keamanan yang berlebihan.
"MSG dan CEO-nya, James Dolan, udah main-main banget sama biotechnology," kata Hanif di acara itu. UU-nya sekarang udah punya 27 endorsements—artinya udah lebih dari setengah City Council NYC. Mereka lagi ngobrol sama speaker Julie Menin buat accelerate legislasi ini.
MSG Bilang: 'Itu Cuma Cara Manusia Kenalkan Muka Secara Elektronik'
Eits, MSG gak diam aja. Juru bicara MSG ngasih statement yang... quite something: "Manusia udah mengenali muka sesama sejak awal zaman—kita cuma lakukannya secara elektronik." Yaa... ok then.
Tapi yang bikin worries sih bukan cuma teknologinya doang. Hanif, yang grew up sebagai Muslim di New York pasca-9/11, bilang kalo surveilans emang bukan hal baru buat komunitasnya. Tapi dia menekankan kalo banyak orang yang gak sadar betapa luasnya surveilans yang mereka alami cuma dengan datang ke Knicks game atau konser di MSG. Ditambah Dolan punya hubungan erat sama President Donald Trump, hal ini bikin kekhawatiran Hanif makin tinggi.
Geek Opinion: Privacy vs Security, Kapan Lo Serahin Muka Lo?
Ini sih red flag yang beneran. Di era AI yang makin advanced, technology yang dijual buat "make us safer" justru bisa jadi alat buat ngawasin warga. Kalo UU ini passed, NYC bakal jadi salah satu kota pertama yang explicitly batasi biometric surveillance di ruang publik—dan kita semua harusnya support ini.
"New Yorkers need to understand, right now, between AI and all these tools yang dijual ke kita buat... keamanan kota kita, actually make us less safe," tegas Hanif. Dan honestly? She got a point sih. Lo mau gak sih mukanya discan setiap kali masuk venue? Kalo menurut gue, privacy lo itu non-negotiable—kita hidup di era digital, tapi data pribadi lo bukan commodity yang bisa diperjualbelikan. Gaspol UU ini, Indonesia juga harusnya belajar dari sini!
(Sumber: WIRED)



